Internasional

Data Ini Bikin Makin Yakin Amerika Kayaknya Bakal Resesi

News - Aulia Mutiara Hatia Putri, CNBC Indonesia
01 July 2022 16:04
WASHINGTON, DC - MAY 12: Flags at the base of the Washington Monument fly at half staff as the United States nears the 1 millionth death attributed to COVID May 12, 2022 in Washington, DC. U.S. President ordered flags to fly at half-mast through next Monday and said the nation must stay resolved to fight the virus that has “forever changed” the country. (Photo by Win McNamee/Getty Images)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sinyal pertumbuhan ekonomi kuartal II-2022 sepertinya akan kehilangan tenaga. Pasalnya, belanja konsumen Amerika Serikat (AS) tercatat melambat.

Departemen Perdagangan AS menunjukkan inflasi mungkin telah mencapai puncaknya, tekanan harga tetap cukup kuat untuk menjaga Federal Reserve pada jalur pengetatan kebijakan moneter yang agresif. Namun demikian, pejabat Fed harus menyambut permintaan pendinginan.

Bank sentral AS bulan ini telah menaikkan suku bunga kebijakannya sebesar tiga perempat poin persentase, kenaikan terbesar sejak 1994. The Fed telah meningkatkan suku bunga acuan overnight sebesar 150 basis poin sejak Maret


"The Fed belum memenangkan perang melawan inflasi, tetapi ada tanda-tanda bahwa ekonomi melambat," kata Christopher Rupkey, kepala ekonom di FWDBONDS di New York.

"Meskipun kekhawatiran resesi, PHK, belum cukup mencapai tingkat yang cukup tinggi untuk membuat panggilan bahwa ekonomi menuju jurang ke kedalaman resesi." Tambahnya.

Namun di sisi lain, potensi resesi kian nyata jika melihat beberapa indikator makro lainnya seperti aktivitas manufaktur, keyakinan konsumen, tingkat produksi industri yang melemah.

Inflasi mempertahankan tren kenaikannya pada Mei. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditure/PCE) naik 0,6% bulan lalu setelah naik 0,2% di bulan April.

Dalam 12 bulan hingga Mei, indeks harga PCE naik 6,3% setelah kenaikan serupa pada April. Itu didorong oleh harga barang dan jasa yang lebih tinggi.

PCE adalah indeks yang mengukur tingkat kenaikan rata-rata harga dari konsumsi domestik. Indikator ini juga jadi salah satu indikator dalam menentukan tingkat inflasi.

PCE inti naik 4,7% pada Mei 2022, ini merupakan kenaikan terkecil sejak November lalu, setelah naik 4,9% pada April. Dengan begitu, adanya perlambatan pada belanja konsumen karena inflasi melonjak, meningkatkan kekhawatiran akan perlambatan ekonomi AS hingga potensi resesi.

Hal tersebut juga dikonfirmasi oleh Michael Pearce, ekonom senior AS di Capital Economics, yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS untuk periode April-Juni turun ke tingkat tahunan sebesar 1%. Angka tersebut jauh di bawah tren tingkat pertumbuhan AS yang biasanya diperkirakan sekitar 2%.

"Kami memperkirakan pertumbuhan tetap di bawah tren selama paruh kedua tahun ini juga," tulis Pearce dikutip dari Reuters.

Indeks harga PCE berjalan lebih rendah dari indeks harga konsumen, yang meningkat 8,6% tahun-ke-tahun pada Mei, karena mereka memiliki bobot lebih kecil untuk harga sewa perumahan yang meningkat pesat.

CPI AS Mulai Menurun..
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading