Awas, Manufaktur RI Sudah di Bibir Jurang!

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
01 July 2022 07:48
Presiden Joko Widodo meluncurkan mobil listrik pertama yang dirakit di Indonesia dalam kunjungan kerjanya ke pabrik PT Hyundai Motor Manufacturing Indonesia di Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat, pada Rabu, 16 Maret 2022. (Biro Pers Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - Aktivitas industri manufaktur Indonesia masih berada di zona ekspansi. Namun ekspansi tersebut terus menipis.

Pada Jumat (1/7/2022), S&P Global mengumumkan aktivitas manufaktur yang diukur dengan Purchasing Managers' Index (PMI) Indonesia periode Juni 2022 berada di 50,2. PMI menggunakan angka 50 sebagai tolok ukur. Kalau masih di atas 50, maka artinya berada di zona ekspansi.

Akan tetapi, pencapaian Juni turun dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 50,8. Skor PMI manufaktur Indonesia memang sudah 10 bulan beruntun di atas 50, tetapi bulan ini menjadi yang terendah.


"PMI berada di posisi terendah selama periode ekspansi, hanya tipis di atas zona netral 50. Hanya ada sedikit perbaikan, yaitu di sektor kesehatan," ungkap laporan S&P Global.

Produksi manufaktur dan pemesanan baru (new orders) tumbuh, tetapi tipis saja. Bahkan pertumbuhan pemesanan baru jadi yang terendah dalam 10 bulan periode ekspansi.

Tekanan inflasi, menurut laporan S&P Global, begitu terasa pada Juni. Harga bahan baku yang lebih tinggi menyebabkan kelangkaan, membuat biaya input membengkak.

Di sisi lain, kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 10% menjadi 11% menambah tekanan di sisi harga. Dunia usaha terpaksa membebankan kenaikan tersebut kepada konsumen melalui harga jual.

Hal lain yang juga patut mendapat perhatian adalah penciptaan lapangan kerja. Pada Juni, terjadi penurunan tenaga kerja setelah lima bulan beruntun mengalami ekspansi. Pada saat yang sama, jumlah pekerjaan yang dikerjakan pun sedikit menurun.

"Pemesanan baru berada di titik terlemah dalam 10 bulan periode ekspansi. Permintaan ekspor terkontraksi ke titik terendah sejak September 2021.

"Tekanan harga masih menjadi keluhan dunia usaha, di mana mereka harus membebankan kenaikan biaya bahan baku kepada konsumen. Kenaikan harga menjadi risiko ke bawah (downside risk) terhadap pertumbuhan industri manufaktur, yang bisa semakin memburuk ketika permintaan domestik ikut terpukul. Jika ini terjadi, maka sektor manufaktur Indonesia akan kehilangan momentum pertumbuhannya," terang Laura Denman, Ekonom S&P Global Market Intelligence, seperti dikutip dari keterangan tertulis.

Artikel Selanjutnya

Pantang Mundur, Manufaktur RI Terus Ekspansi!


(aji/aji)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading