Manufaktur RI Masih Ekspansi, Tapi...

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
02 June 2022 07:43
Mobil Listrik Hyundai IONIQ 5 yang di pamerkan dalam ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2022 di JIExpo-Kemayoran, Kamis (31/3/2022). IONIQ 5 merupakan mobil listrik yang diproduksi di pabrik Hyundai di Cikarang, Jawa Barat.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo). Foto: Mobil Listrik Hyundai IONIQ 5 yang di pamerkan dalam ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2022 di JIExpo-Kemayoran, Kamis (31/3/2022). IONIQ 5 merupakan mobil listrik yang diproduksi di pabrik Hyundai di Cikarang, Jawa Barat. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo).

Jakarta, CNBC Indonesia - Aktivitas manufaktur Indonesia masih berada di zona ekspansi. Namun laju ekspansi tersebut melambat.

Pada Kamis (2/6/2022), S&P Global mencatat aktivitas manufaktur yang diukur dengan Purchasing Managers' Index (PMI) Indonesia pada Mei 2022 ada di 50,8. Skor di atas 50 menandakan masih terjadi ekspansi. PMI manufaktur Indonesia sudah sembilan bulan beruntun berada di atas 50.

Akan tetapi, ekspansi itu sepertinya melambat. Sebab bulan sebelumnya PMI manufaktur tercatat 51,9.


"Produksi manufaktur turun untuk kali pertama dalam sembilan bulan pada Mei, meski pada laju fraksional. Anggota panel sering menyebutkan bahwa penurunan disebabkan oleh gangguan pasokan. Sementara itu, menurut panelis, permintaan baru secara keseluruhan mengalami ekspansi tingkat sedang, dengan kondisi permintaan yang relatif kuat dan pemenangan klien baru mendorong kenaikan terkini," sebut keterangan tertulis S&P Global.

Permintaan ekspor juga masih tinggi. Akibatnya, dunia usaha Tanah Air meningkatkan pembelian barang input sehingga stok pra-produksi naik.

Permintaan yang tinggi juga membuat dunia usaha terus melakukan rekrutmen. Namun dalam laju yang melambat.

"Kondisi bisnis pada seluruh sektor manufaktur Indonesia membaik pada laju lebih lambat pada Mei. Bukti anekdotal survei menunjukkan bahwa produksi manufaktur sedikit turun pada pertengahan menuju kuartal II karena gangguan pasokan.

"Perpanjangan waktu pengiriman dari pemasok, ditambah dengan kenaikan harga terus-menerus dan cepat, menyoroti hambatan pasokan yang berdampak pada performa sektor manufaktur Indonesia. Kabar baiknya adalah permintaan terus naik, tetapi harus diperhatikan seberapa jauh output manufaktur mungkin akan terdampak ke depannya," papar Jingyi Pan, Economics Associate Director S&P Global Market Intelligence, dalam keterangan tertulis.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Manufaktur RI Masih Ekspansif, Tapi...


(aji/aji)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading