Sekutu Putin: London yang Pertama Dibom di Perang Dunia ke 3

News - Khoirul Anam, CNBC Indonesia
26 June 2022 12:40
Crowds watch as Queen Elizabeth makes an appearance in the balcony of Buckingham Palace, to watch the special flypast by the Britain's RAF (Royal Air Force) following the Trooping the Colour parade, as a part of her platinum jubilee celebrations, in London, Britain June 2, 2022.Aaron Chown/Pool via REUTERS

Jakarta, CNBC Indonesia - Ibu kota negara Inggris, London, terancam akan menjadi kota pertama yang dihancurkan ketika terjadi Perang Dunia III. Hal ini disampaikan jenderal yang juga politisi sekutu dekat Presiden Rusia Vladimir Putin, Letnan Jenderal Andrey Gurulyov.

Dia menganjurkan invasi Rusia ke negara-negara Baltik NATO. Sebab tidak ada cara lain untuk mencegah Barat memblokade eksklave Rusia, Kaliningrad.


"Tidak ada yang akan peduli apakah mereka orang Amerika atau Inggris, kami akan melihat mereka semua sebagai NATO. Kedua, kami akan memitigasi seluruh sistem pertahanan anti-rudal, di mana-mana dan 100%. Ketiga, kami tentu tidak akan memulai dari Warsawa, Paris, atau Berlin. Yang pertama terkena adalah London," tegasnya dalam Channel One milik pemerintah Rusia dikutip Minggu (26/6/2022).

Sebelumnya, Letnan Jenderal (Letjen) Purnawirawan Evgeny Buzhinsky juga mengatakan Inggris bisa lenyap jika perang antara NATO dan Rusia benar-benar terjadi. Hal ini dilontarkan tatkala Moskow saat ini bersitegang dengan salah satu anggota aliansi itu, Lithuania, pasca blokade jalur transit kereta api yang memutus Rusia dengan wilayahnya di Eropa, Kaliningrad.

Eks Jenderal Militer Rusia ini mengatakan aliansi yang diikuti London itu telah bermain api dengan memblokade jalur kereta api antara Rusia dan salah satu wilayahnya di Eropa, Kaliningrad. Ia menyebut keputusan itu dapat memicu Perang Dunia III.

"Dia tidak mengerti bahwa sebagai akibat dari Perang Dunia Ketiga, Inggris secara fisik tidak akan ada lagi," kata Letjen Buzhinsky dikutip media Inggris, Metro, Minggu (26/6/2022).

Kaliningrad sendiri merupakan wilayah Rusia yang terpisah dari daerah milik Moskow lainnya. Agar dapat mencapai wilayah itu, Rusia harus melewati Lithuania dan Belarus.

Di sisi lain, Lithuania sendiri merupakan anggota NATO yang cukup vokal menentang serangan Rusia ke Ukraina. Negara yang beribukota di Vilnius itu menyebut blokade ini merupakan salah satu bentuk sanksi mereka terhadap Rusia.

Sementara itu, Inggris yang juga salah satu patron NATO telah menyiagakan diri untuk perang dengan Rusia. Panglima Militer Jenderal Sir Patrick Sanders, yang baru bekerja pekan lalu, benar-benar berbicara seperti itu kepada semua jajarannya dalam pesan internal.

"Invasi Rusia ke Ukraina menggarisbawahi tujuan inti kita. Untuk melindungi Inggris dan siap untuk berperang dan memenangkan perang di darat dan memperkuat persyaratan untuk mencegah serangan Rusia," katanya.

"Dunia telah berubah sejak 24 Februari. Sekarang ada keharusan yang membara untuk membentuk Angkatan Darat yang mampu berperang bersama sekutu kita dan mengalahkan Rusia dalam pertempuran," tambahnya lagi.

"(Tujuan kita adalah) mempercepat mobilisasi dan modernisasi Angkatan Darat untuk memperkuat NATO dan menolak kesempatan Rusia untuk menduduki Eropa lagi... kita adalah generasi yang harus mempersiapkan Angkatan Darat untuk berperang di Eropa sekali lagi," tutupnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Heboh! Putin Bakal Lenyapkan Inggris Pakai Nuklir Bawah Laut?


(cha/cha)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading