Simak! Ini yang Bisa Dilakukan RI Rebut Pasar Batu Bara Eropa

News - Verda Nano Setiawan, CNBC Indonesia
23 June 2022 11:45
A pile of coal is seen at a warehouse of the Trypillian thermal power plant, owned by Ukrainian state-run energy company Centrenergo, in Kiev region, Ukraine November 23, 2017. Picture taken November 23, 2017. REUTERS/Valentyn Ogirenko

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia diperkirakan akan ketiban durian runtuh seiring dengan lonjakan permintaan batu bara dari sejumlah negara di Eropa.

Namun Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli, menilai seiring dengan adanya komitmen negara-negara di Eropa yang akan menghentikan pengoperasian PLTU batu bara, maka pemenuhan batu bara ke pasar Eropa lebih baik dilakukan di pasar spot, bukan kontrak jangka panjang.

Rizal mengatakan beberapa negara di Eropa bahkan sudah mencanangkan penghentian pengoperasian PLTU pada 2030 mendatang. Namun karena adanya perang antara Rusia-Ukraina, negara-negara tersebut akhirnya terpaksa untuk menggunakan PLTU kembali.


"Namun apa yang bisa disikapi oleh para pengusaha kita yakni mengambil pasar spot bukan kontrak jangka panjang. Nah mungkin bisa kontrak jangka panjang tapi harus mendapatkan kepastian sehingga investasi yang ditanamkan tidak mubazir atau merugi," ujarnya kepada CNBC Indonesia, Rabu (22/6/2022).

Rizal Kasli menilai bahwa upaya peningkatan produksi untuk memenuhi kebutuhan ekspor tidaklah mudah. Setidaknya ketersediaan alat berat dan alat angkut menjadi tantangan tersendiri.

"Pertama adalah bahwa saat ini juga terjadi kelangkaan suplai alat berat yang dibutuhkan untuk peningkatan produksi itu agak sulit," kata Rizal.

Di samping itu, ketersediaan alat berat untuk kegiatan tambang juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Paling tidak penambang harus menunggu terlebih dahulu sekitar 12 hingga 15 bulan lamanya.

"Yang satu lagi adalah alat angkut yang kita kebanyakan kita gunakan, misalnya tongkang nah ini sulit untuk didapatkan sehingga ini bisa jadi penghambat," ujarnya.

Selain tantangan dalam meningkatkan produksi untuk kebutuhan ekspor, RI juga akan bersaing dengan sejumlah negara seperti Amerika Serikat hingga Afrika sebagai pemasok utama komoditas emas hitam tersebut.

Rizal mengatakan bahwa produksi batu bara RI sampai dengan 22 Juni berdasarkan data MODI Kementerian ESDM telah mencapai 42,7% atau sekitar 283,6 juta. Oleh sebab itu, dia pun pesimistis RI dapat mengambil peluang untuk memperluas pasokan ke pasar Eropa.

"Saya agak pesimis kita bisa memenuhi mengambil peluang tersebut secara maksimal karena yang pertama kita akan bersaing dengan negara lain seperti Afrika Selatan, Australia, Kolombia, dan Amerika Serikat sendiri yang notabene penghasil batu bara besar dunia," ujarnya.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membenarkan bahwa salah satu negara di Eropa yakni Jerman meminta kepada Indonesia untuk memenuhi kebutuhan batu bara negaranya. Hanya, Indonesia tidak bisa memenuhi kebutuhan batu bara yang diminta secara full atau 50% dari kebutuhan Jerman.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara Kementerian ESDM, Lana Saria mengatakan bahwa, sejatinya kebutuhan batu bara Jerman pada tahun 2022 mencapai 31,5 juta ton, di mana 50% direncanakan dipasok dari Rusia.

Namun, karena terjadi perang Rusia dan Ukraina, sebagai sanksi ekonomi Uni Eropa (UE), Jerman akan menutup pasokan batu bara-nya dari Rusia. Oleh sebab itu, Jerman berharap Indonesia bisa memenuhi 50% kebutuhan batu bara asal Rusia tersebut.

"Jerman berharap kebutuhan 50% yang semula dari Rusia, bisa dipenuhi dari Indonesia. Namun, setelah dilanjutkan pembicaraan lebih detail, paling banyak diharapkan 5 - 6 juta ton dapat diperoleh dari Indonesia," terang Lana kepada CNBC Indonesia, Minggu (19/6/2022).


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Meski Banjir Pesanan, RI Enggan Tingkatkan Produksi Batu Bara


(pgr/pgr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading