Sudah Naik 13% dalam Seminggu, Batu Bara Rehat Dulu

Market - Maesaroh, CNBC Indonesia
23 June 2022 07:14
Pekerja melakukan bongkar muat batubara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (6/1/2022). Pemerintah memutuskan untuk menyetop ekspor batu bara pada 1–31 Januari 2022 guna menjamin terpenuhinya pasokan komoditas tersebut untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PLN dan independent power producer (IPP) dalam negeri. Kurangnya pasokan batubara dalam negeri ini akan berdampak kepada lebih dari 10 juta pelanggan PLN, mulai dari masyarakat umum hingga industri, di wilayah Jawa, Madura, Bali (Jamali) dan non-Jamali. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melemah usai terbang selama sepekan terakhir. Pada perdagangan Rabu (22/6/2022), harga batu kontrak Juli di pasar ICE Newcastle (Australia) ditutup di US$ 392 per ton. Melemah 0,88%

Pelemahan harga batu bara kemarin memutus tren kenaikan yang berlangsung sejak 15 Juni lalau atau sepekan terakhir. Pelemahan juga membuat upaya batu hitam untuk kembali ke level US$ 400 terhenti.

Dalam sepekan, harga batu bara menguat 13,6% secara point to point. Dalam sebulan harga batu bara masih anjlok 5,1% tetapi dalam setahun harganya melesat 213,3%.


Pelemahan harga batu bara disebabkan meredanya kekhawatiran mengenai pasokan serta langkah China untuk menjaga harga komoditas tersebut. Harga batu hitam melambung pada Senin dan Selasa kemarin setelah negara-negara Eropa mulai dari Jerman Inggris, Austria, hingga Belanda mengumumkan akan kembali menggunakan batu bara sebagai sumber pembangkit listrik mereka.

Pasokan dilaporkan sudah mengalir ke Eropa dan ini sedikit meredakan kekhawatiran pasar. Montel News melaporkan pasokan batu bara pada pelabuhan di barat laut Eropa mencapai level tertinggi sejak 2020.

Selain untuk menghidupkan kembali pembangkit listrik, pasokan batu bara juga meningkat tajam karena Eropa menumpuk pasokan sebelum melarang impor batu bara dari Rusia pada 10 Agustus mendatang. Pasokan batu bara pada Pelabuhan Amsterdam, Rotterdam dan Antwerp (ARA) sekarang ini mencapai 6,49 juta ton, naik 1,3% dibandingkan pekan sebelumnya. Pasokan ini diperkirakan akan terus meningkat hingga 20% atau bertambah 1 juta ton ke depan.

Perret Associates memperkirakan impor batu bara thermal dari negara-negara Eropa termasuk Inggris dan Polandia mencapai 84 juta ton tahun ini, naik drastis dibandingkan 58,5 juta ton pada 2021. Namun, Perret menganggap lonjakan impor tersebut berlebihan dan "overacting". Pasalnya, kemampuan pembangkit listrik batu bara di Eropa belum tentu akan menyerap pasokan sebanyak itu.

"Katakanlah jika Eropa bisa mengimpor sebanyak itu, tapi apa mampu mereka menyerap sepenuhnya. Menurut saya, mereka membeli terlalu banyak. Berapa lama pembangkit mereka akan menghabiskan stok," tutur Guillaume Perret dari Perret Associates, seperti dikutip Montel News.

Pelemahan batu bara juga didorong oleh sikap China untuk menindak tegas mereka yang menjual harga batu bara di atas ketentuan. "Dengan situasi global seperti saat ini, tekanan inflasi, dan dampak inflasi yang besar maka sangat penting bagi kita untuk menjaga harga tetap pada kisaran yang masuk akal," tutur pejabat Komisi Reformasi dan Pembangunan Nasioal China Wei Qijia, seperti dikutip dari Financial Review.

Produksi batu bata China pada Januari- Mei 2022 meningkat dan mencapai 1,81 miliar. Produksi tersebut naik 10,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Namun, penggunaan batu bara di China kemungkinan meningkat karena pembangkit listrik mulai menambah pasokan menjelang musim dingin. 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Sepanjang 2020, Harga Batu Bara Paling 'Boring' Pekan Ini


(mae/mae)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading