Batal Menguat, Rupiah Malah Jeblok ke Level Terlemah 18 Bulan

News - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
16 June 2022 15:03
Warga melintas di depan toko penukaran uang di Kawasan Blok M, Jakarta, Jumat (20/7). di tempat penukaran uang ini dollar ditransaksikan di Rp 14.550. Rupiah melemah 0,31% dibandingkan penutupan perdagangan kemarin. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin melemah. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah akhirnya melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (16/6/2022). Rupiah kini mencatat pelemahan 4 hari beruntun, padahal sebelum tengah hari rupiah masih mampu mempertahankan penguatan.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan menguat 0,2%, dan sempat terakselerasi menjadi 0,34% ke Rp 14.690/US$. Namun, setelahnya rupiah berbalik melemah hingga mengakhiri perdagangan di Rp 14.765/US$, melemah 0,17% di pasar spot. Posisi tersebut merupakan yang terlemah sejak dalam 18 bulan terakhir.

Pengumuman kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed) menjadi penggerak utama pasar valuta asing hari ini.


Dalam pengumuman kebijakan moneter Kamis (16/6/2022) dini hari waktu Indonesia, The Fed menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin menjadi 1,5% - 1,75%. Padahal pada bulan lalu, ketua The Fed Jerome Powell menyatakan suku bunga akan dinaikkan 50 basis poin dan tidak mempertimbangkan kenaikan 75 basis poin.

Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar sejak tahun 1994, dan masih belum akan berakhir. Berdasarkan Fed Dot Plot yang dirilis setiap akhir kuartal, mayoritas anggota pembuat kebijakan moneter (The Fed) melihat suku bunga di akhir tahun berada di 3,4% atau di rentang 3,25% - 3,5%.

Tingkat suku bunga tersebut lebih tinggi 1,5% ketimbang Fed Dot Plot edisi Maret.

Inflasi yang terus menanjak menjadi penyebab The Fed lebih agresif menaikkan suku bunga, tetapi keputusan kali ini disambut baik oleh pelaku pasar. Sebab, The Fed menunjukkan niat yang kuat untuk menurunkan inflasi.

Bursa saham AS (Wall Street) melesat, indeks Dow Jones naik 1%, S&P 500 1,5% dan Nasdaq memimpin sebesar 2,5%. Indeks ketakutan (VIX) juga mengalami penurunan drastis sebesar 3 poin ke 29,6. Penurunan indeks ketakutan tersebut menunjukkan sentimen pelaku pasar yang semakin membaik. Sebaliknya, indeks dolar AS justru merosot 0,34% pada perdagangan Rabu, dan berlanjut lagi 0,22% pagi ini ke 104,926.

Salah satu pemicu berbalik melemahnya dolar AS yakni proyeksi suku bunga di akhir tahun ini. The Fed memperkirakan akan berada di kisaran 3,25% - 3,5%, sementara pasar melihat di 4%.

"Pasar melihat suku bunga berada di kisaran 3,75% - 4% di akhir tahun, tetapi pernyataan Powell membuat tenang dan membebani dolar AS," kata analis ANZ Bank dalam sebuah catatan sebagaimana dikutip Reuters.

Namun, melihat proyeksi kenaikan suku bunga di akhir tahun 3,25% - 3,5%, akan sama dengan Bank Indonesia (BI) yang saat ini 3,5%.

Sejauh ini, BI masih enggan untuk menaikkan suku bunga. Dengan suku bunga rendah, BI bisa menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Tetapi, dengan suku bunga yang sama, seandainya inflasi di Amerika Serikat mulai melandai, maka pasar finansial dalam negeri akan tertekan. Ada risiko terjadi capital outflow yang besar.

Pasar kini menanti bagaimana sikap BI dalam rapat pengumuman kebijakan moneter pekan depan.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Cacar Monyet Mengancam, Kemenkes Perketat Pintu Masuk


(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading