Waspada Krisis Pangan, Produksi Beras RI Ternyata Turun Terus

News - Damiana Cut Emeria, CNBC Indonesia
14 June 2022 06:45
Ilustrasi panen padi. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Umum Asosiasi Bank Benih Indonesia (AB2TI) Dwi Andreas Santosa mengatakan, harga beras global bukan jadi isu mengkhawatirkan bagi Indonesia. Pemerintah, ujar dia, justru harus waspada dengan tren penurunan produksi beras Indonesia.

"Sejak tahun 2015 sampai 2021, produksi beras terus turun. Penurunannya itu sampai 0,35%, cukup tinggi," kata Dwi Andreas kepada CNBC Indonesia, Senin (13/6/2022).

Dalam rentang waktu tersebut, lanjut dia, produksi beras nasional sempat naik di tahun 2020. Tipis, sekitar 0,07&. Lalu turun lagi di tahun 2021.


"Kita itu kehilangan momentum menaikkan produksi di tahun 2020 dan 2021 yang memiliki kemarau basah, ada La Nina. Selama 20 tahun, produksi selalu naik signifikan, di atas 4% setiap ada La Nina. Baru kemarin produksi bisa turun," tukasnya.

"Ini seharusnya menjadi warning bagi pemerintah," dia menambahkan.

Dwi Andreas menyoroti pernyataan pemerintah yang menggembar-gemborkan absennya impor beras sejak tahun 2019.

"Itu karena stok pemerintah lumayan besar. Berasal dari impor tahun 2018. Karena itu, meski produksi turun di tahun 2019, tidak terlalu ada dampak. Karena tertutupi, masih ada stok beras Bulog yang sangat besar untuk sampai tahun 2020. Tahun 2021, kita betul-betul bergantung ke produksi murni karena stok eks-impor sudah makin sedikit," jelas Dwi Andreas.

Menurut Dwi Andreas, laju pertumbuhan produksi beras di Indonesia saat ini tak lagi mampu mengejar laju pertambahan penduduk.

"Jadi kalau dibilang tidak ada impor, ya karena apa dulu," ujar Dwi Andreas.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, angka tetap untuk tahun 2021, dimana luas panen padi mencapai sekitar 10,41 juta ha, mengalami penurunan sebanyak 245,47 ribu ha atau 2,30% dibandingkan luas panen padi di 2020 yang sebesar 10,66 juta ha.

Produksi padi tahun 2021 adalah 54,42 juta ton gabah kering giling (GKG).

"Mengalami penurunan sebanyak 233,91 ribu ton atau 0,43% dibandingkan produksi padi tahun 2020 yang sebesar 54,65 juta ton GKG," demikian mengutip BPS tentang Angka Tetap Produksi Padi tahun 2024, dikutip Selasa (14/6/2022).

Produksi beras tahun 2021 untuk konsumsi pangan penduduk mencapai 31,3juta ton, mengalami penurunan sebanyak 140,73 ribu ton atau 0,45% dibandingkan produksi beras di tahun 2020 yang sebesar 31,50 juta ton.

Sementara itu, Departemen Pertanian AS (USDA) memprediksi, produksi beras global tahun 2022/2023 akan susut 2,0 juta ton menjadi 702,7 juta ton. Diantaranya dipicu rendahnya stok awal di India.

Stok akhir beras di dunia diperkirakan susut 2,8 juta ton menjadi 183,4 juta ton pada 2022/2023. Angka itu anjlok 4,6 juta ton dari posisi rekor tahun 2020/2021.

Dalam outlook edisi Maret 2022, USDA memproyeksikan, produksi beras Indonesia tahun 2021/2022 bakal turun dari setahun sebelumnya 34,5 juta ton di 2020/2021 menjadi 34,4 juta ton. Meski dengan estimasi ada pertambahan luas areal tanam.

Tahun 2022/2023, produksi beras Indonesia harapkan membaik dengan peningkatan produktivitas per hektar. Sehingga produksi beras diperkirakan mencapai 24,6 juta ton.

Masalah Biaya

Di sisi lain, Dwi Andreas mengatakan, saat ini petani berlahan sempit masih berusaha bertahan bertani dan menanam padi meski merugi.

"Harga beras di bawah Rp7.000 tapi harga pokok produksinya sudah Rp8.300. Ya petani berlahan sempit bertahan aja, rugi yang biarlah," katanya.

Menurut Dwi Andreas, lonjakan biaya produksi beras dipicu naiknya harga pupuk sehingga secara signifikan memicu kenaikan biaya produksi.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Produksi Beras Anjlok, Hingga BBM Shell Indonesia Naik Harga


(dce/dce)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading