Internasional

Kronologi "Kiamat" Ayam di Singapura, Karena Negara Tetangga?

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
03 June 2022 06:40
Chickens are seen inside a poultry farm in Sepang, Selangor, May 27, 2022.  Picture taken May 27, 2022. REUTERS/Hasnoor Hussain

Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena krisis ayam potong saat ini melanda Singapura. Kelangkaan bahkan telah memukul bisnis dan juga konsumsi masyarakat Negeri Singa.

Apa yang terjadi?

Hal ini akibat negara tetangga Malaysia yang menghentikan semua ekspor ayamnya ke luar negeri per 1 Juni. Singapura, yang bergantung 34% terkena dampak.


Mengutip Channel News Asia (CNA), Malaysia sendiri pun dilanda krisis ayam potong. Ini membuat Perdana Menteri (PM) Ismail Sabri Yaakob, mengeluarkan larangan ekspor ayam di akhir Mei, untuk mengendalikan kebutuhan akan daging unggas itu di dalam negeri.

Produksi Malaysia mengalami penurunan karena beberapa faktor yakni meningkatnya biaya produksi ayam, infeksi penyakit, dan kondisi cuaca. Penurunan ini pun mendorong harga ayam.

Selain itu, Kuala Lumpur saat ini juga sedang menyelidiki terkait dugaan kartel ayam. Mereka juga mencium bahwa ada dugaan bahwa kartel itu telah mengatur harga dan produksi.

"Pengumuman mendadak oleh Malaysia kemungkinan akan berdampak buruk pada harga ayam dan produk terkait di Singapura," kata Presiden Asosiasi Konsumen Singapura (CASE) Melvin Yong.

"Larangan itu berarti kami tidak bisa lagi menjual. Ini seperti McDonald's tanpa burger," kata Daniel Tan, pemilik chain restoran bernama OK Chicken Rice, mengatakan kepada Reuters.

Sementara itu, Badan Pangan Singapura (SFA) mengatakan stok ayam beku masih akan cukup aman di pasaran. Meski begitu, pihaknya juga saat ini melakukan langkah-langkah cadangan, termasuk mencari negara lain yang mampu menjadi pemasok ayam.

"Misalnya, mereka akan mengaktifkan rantai pasokan mereka untuk meningkatkan impor ayam dingin dari sumber alternatif, meningkatkan impor ayam beku dari pemasok non-Malaysia yang ada, atau menarik dari stok unggas mereka," sebut lembaga itu.

Berdasarkan data Departemen Layanan Kedokteran Hewan Kementerian Pertanian dan Industri Makanan, Malaysia mengekspor lebih dari 49 juta ayam hidup pada tahun 2020. Ada pula 42,3 ton daging ayam dan bebek.

Pemerintah Malaysia telah menetapkan harga pagu eceran RM 8,90 per kilogram. Di mana ada subsidi kepada peternak unggas sebesar 60 sen per kg dari 5 Februari hingga 4 Juni.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Singapura Krisis, RI Malah Swasembada Ayam Besar-Besaran


(sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading