Pak Jokowi, Apa Benar Situasi Dunia Sekarang 'Sengeri' Itu?

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
29 May 2022 10:45
Presiden Joko Widodo pada acara The 7th Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) 2022 yang digelar di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Kabupaten Badung, Provinsi Bali, pada Rabu, 25 Mei 2022. (Foto: Kris - Biro Pers Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan saat ini banyak tantangan global yang dihadapi dalam upaya pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19 yang masih belum merata. Hal ini diperparah dengan adanya gejolak geopolitik Rusia dan Ukraina.



"Ancaman gelombang varian baru Covid-19 masih harus kita antisipasi dan semua ini semakin diperparah kembali oleh terjadinya konflik Rusia-Ukraina, membawa babak baru dalam konstelasi geopolitik," jelas Jokowi dalam Pidato Konferensi Asia yang disiarkan di Youtube Sekretariat Presiden, dikutip Minggu (29/5/2022).



Lebih lanjut Jokowi mengatakan, politik global mengalami peningkatan ketegangan, rantai pasok perdagangan dunia terganggu, dan kenaikan harga kebutuhan barang. Sehingga membuat pertumbuhan domestik bruto (PDB) global diperkirakan turun dari 38% menjadi 2,6% pada tahun ini.



Setidaknya, 38 negara berpenghasilan rendah mencapai status berisiko tinggi untuk beban utang luar negeri mereka. Pencapaian SGD's tertunda dan 150 juta penduduk dunia kembali terjerumus dalam kemiskinan ekstrem dan lebih dari 160 juta orang di dunia kembali kelaparan.



"Meski ekonomi Asia melambung 6,9% tahun lalu, pemulihan ekonomi belum terjadi pada kawasan yang luas. ADB (Asia Development Bank) memperkirakan GDP Asia akan meningkat 5,2% pada 2022 dan menjadi 5,3% pada tahun 2023 dengan kenaikan inflasi 3,7% tahun ini dan 3,1% pada tahun 2023," jelas Jokowi.



Di kawasan Asia angka kemiskinan mencapai 4,7 juta jiwa dan yang kehilangan pekerjaan lebih dari 9,3 juta jiwa.



"Oleh karena itu, kita harus melakukan percepatan pemulihan ekonomi, perlu investasi di sektor kesehatan nasional, perlu investasi SDM guna meningkatkan produktivitas dan daya saing, perlu penguatan fundamental makro ekonomi dan memanfaatkan peluang ekonomi hijau," tutur Jokowi.



Indonesia, kata Jokowi akan terus mendukung proses pemulihan pasca pandemi. Setidaknya tiga langkah akan dilakukan.



Pertama, Indonesia terus mengupayakan penguatan kerjasama ekonomi dengan mitra strategisnya. Kedua, dalam kerangka kerjasama Asia, Indonesia akan terus mendorong agar negara ASEANĀ bersama bekerja keras untuk lebih bisa menikmati rantai nilai global agar mampu menaiki tangga kemajuan

Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional atau Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang telah disetujui dua tahun lalu, menurut Jokowi perlu untuk segera diimplementasikan, untuk memperkuat integrasi ekonomi kawasan yang saling menguntungkan.



"Implementasi RCEP berpotensi meningkatkan perdagangan kawasan 10% dalam lima tahun ke depan dan berkontribusi US$ 187 miliar pada GDP kawasan," jelas Jokowi.


Ketiga, sebagai Presidensi G20, Indonesia ingin memastikan agar G20 menjadi katalisator pemulihan ekonomi global, yang setidaknya ada tiga sektor penting akan menjadi prioritas.



"Pertama penguatan arsitektur kesehatan global untuk memastikan ketersediaan sumber daya bagi penanganan Covid dan penguatan kesiapsiagaan menghadapi darurat mendatang. Kedua, transisi energi untuk memastikan dukungan teknologi investasi dan pembiayaan transisi energi, pembangunan hijau khususnya bagi negara berkembang," jela Jokowi.



"Ketiga, transformasi digital untuk memperkuat sumber pertumbuhan baru dan perluasan peluang ekonomi termasuk untuk UMKM," kata Jokowi melanjutkan.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Jokowi Bicara Dua Kunci Agar Pandemi Covid-19 Jadi Endemi


(cha/cha)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading