Internasional

Tanda AS Jatuh ke Lubang Resesi Kian Nyata, Ini Buktinya

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
23 May 2022 11:30
WASHINGTON, DC - MAY 12: Flags at the base of the Washington Monument fly at half staff as the United States nears the 1 millionth death attributed to COVID May 12, 2022 in Washington, DC. U.S. President ordered flags to fly at half-mast through next Monday and said the nation must stay resolved to fight the virus that has “forever changed” the country. (Photo by Win McNamee/Getty Images)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indikasi bahwa ekonomi Amerika Serikat (AS) akan mengalami resesi semakin nyata. Terbaru, hal ini dibuktikan oleh tingginya angka inflasi dan kenaikan suku bunga di Negeri Paman Sam itu.

Ini setidaknya dikatakan mantan kepala ekonom SEC yang juga akademisi dari University of Southern California Marshall School of Business, Larry Harris. Ia menyebutkan bahwa resesi "diperlukan" untuk menahan laju inflasi yang saat ini cukup tinggi.


"Apakah kita akan mengalami resesi? Sangat mungkin. Sangat sulit untuk menghentikan inflasi tanpa resesi." ujarnya seperti dikutip CNBC International, Senin (23/5/2022).

Ketika suku bunga tinggi, konsumen mendapatkan pengembalian yang lebih tinggi atas uang yang mereka simpan di rekening bank. Hal ini, nyatanya, membuat minat untuk meminjam uang di bank justru menjadi menurun.

"Kenaikan suku bunga menghambat pengeluaran dengan meningkatkan biaya pembiayaan," terang Harris.

Kekhawatiran bahwa langkah agresif The Fed untuk menaikkan suku bunga dapat mendorong ekonomi ke dalam resesi. Langkah bank sentral itu juga menyebabkan pasar merosot selama berturut-turut.

"Perang di Ukraina, yang telah berkontribusi pada kenaikan harga bahan bakar, kekurangan tenaga kerja, dan gelombang lain infeksi Covid merupakan tantangan tambahan," tambahnya.

"Ada hal-hal besar yang terjadi dalam perekonomian dan pengeluaran pemerintah yang sangat besar. Ketika saldo menjadi besar, penyesuaian harus besar."

"Akan ada hari perhitungan, pertanyaannya adalah seberapa cepat," ujarnya lagi.

Dalam data terbaru bulan April 2022, inflasi di AS telah mencapai 8,2%. Hal ini mendorong The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan sebanyak 50 basis poin menjadi 0,75-1%. Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar dalam 22 tahun terakhir.

Sebelumnya isu resesi di AS sudah terdengar sejak April 2022. Sejumlah analis termasuk lembaga seperti Deutche Bank mengemukakannya.

Resesi adalah periode saat terjadi penurunan roda perekonomian yang ditandainya dengan melemahnya produk domestik brotu (PDB) selama dua kuartal berturut-turut. KBBI mendefinisikan apa itu resesi sebagai kelesuan dalam kegiatan dagang, industri, dan sebagainya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

"Musuh dalam Selimut" AS Menggila, Bakal Nyebar ke Mana-mana


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading