Internasional

Inggris Terancam "Kiamat" Biaya Hidup, Warga Kurangi Makan

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
18 May 2022 15:30
Menara Elizabeth dan lonceng 'Big Ben' di Gedung Parlemen, London, Inggris (14/8/2019). (REUTERS / Neil Hall)

Jakarta, CNBC Indonesia - Hal mengejutkan terjadi di Inggris. Seperempat warganya kini mulai mengurangi porsi makan sebagai dampak tekanan inflasi dan kelangkaan pangan.

Bank of England bahkan menyebut "kiamat" untuk para konsumen. Sebanyak empat dari lima orang Inggris, kini khawatir tentang biaya hidup dan bagaimana mereka memenuhi kebutuhan dasar, mulai dari makanan hingga energi.


Menurut sebuah survei yang dirilis Sky News dan dimuat CNBC International, Selasa (17/5/2022) dari 2.000 warga Inggris, 89% merasa khawatir tentang bagaimana krisis biaya hidup akan mempengaruhi negara secara keseluruhan selama enam bulan ke depan. Sementara 83% khawatir tentang keadaan pribadi mereka.

"Mereka yang berpenghasilan rendah lebih khawatir. Mereka yang berpenghasilan di bawah US$ 25 ribu menggambarkan diri dengan 'sangat prihatin' tentang bagaimana akan memenuhi kebutuhan tahun ini," lapor survei itu.

"Sebuah perusahaan katering mengatakan sekolah-sekolah sekarang menghadapi keputusan sulit apakah akan mengurangi ukuran makanan atau menggunakan bahan-bahan berkualitas lebih rendah di tengah melonjaknya harga."

Kenaikan harga dan kelangkaan ini juga diperparah dengan perang Rusia dan Ukraina. Bagaimana tidak, Ukraina merupakan "keranjang roti" Eropa.

Akibat perang dengan Rusia, Ukraina tak mampu mengekspor biji-bijian, pupuk, hingga minyak sayur. Saat ini pertempuran masih berlangsung dan menghancurkan ladang tanaman dan mengganggu panen negara itu.

"Maaf karena 'kiamat' yang terjadi saat ini, tapi ini jadi fokus kami," tegas Gubernur Bank of England, Andrew Bailey.

"Tidak mengherankan melihat inflasi harga pangan sepanjang tahun berjalan menuju 10%," kata ketua merek makanan kelas atas negara itu, Archie Norman, mengatakan kepada radio BBC.

Krisis ini sendiri juga diperparah oleh keputusan India yang melarang ekspor gandum. Indonesia pun disebut mengambil peran karena melarang ekspor minyak sawit.

Sementara itu, dalam laporan terbaru, Inggris mencatat inflasi tertinggi sepanjang 40 tahun terakhir sebesar 9%. IniĀ merupakan yang tertinggi sejak pencatatan dimulai pada tahun 1989, melampaui kenaikan tahunan 8,4% yang terjadi pada Maret 1992 dan jauh di atas 7% yang tercatat pada Maret 2022.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Fakta! Krisis Inggris Makin Ngeri, Warga Terancam Sengsara


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading