Psst.. Jokowi Punya Jurus Terakhir Pukul Mundur Covid-19

News - Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
13 May 2022 08:50
Presiden Jokowi Dorong Kerja Sama untuk Atasi Pandemi dan Perkuat Arsitektur Kesehatan Dunia. ( Biro Pers Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi Covid-19 memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi dunia. Terungkap, ketahanan kesehatan dan kesiapsiagaan dunia terhadap pandemi ternyata tidak cukup kuat.

Akibatnya, harga yang harus dibayar sangatlah mahal. Jutaan orang kehilangan nyawanya, sementara perekonomian dunia pun mengalami keterpurukan. Beberapa negara bahkan mengalami resesi.


"Kita harus bekerja sama mengatasi pandemi serta membangun arsitektur kesehatan dan kesiapsiagaan dunia yang lebih kuat," kata Jokowi saat menyampaikan pidato secara virtual dalam Global Covid-19 Summit yang digelar di Washington DC, Amerika Serikat, Kamis waktu setempat.

Jokowi lantas mendorong semua negara untuk bekerja sama mengatasi pandemi serta membangun arsitektur kesehatan dan kesiapsiagaan dunia yang lebih kuat.

"Untuk mengatasi pandemi, percepatan vaksinasi harus dilakukan untuk menjangkau 70% penduduk setiap negara. Momentum turunnya jumlah kasus saat ini harus dimanfaatkan untuk meluncurkan pukulan terakhir terhadap Covid-19," katanya.

Presiden Jokowi Dorong Kerja Sama untuk Atasi Pandemi dan Perkuat Arsitektur Kesehatan Dunia. ( Biro Pers Sekretariat Presiden)Foto: Presiden Jokowi Dorong Kerja Sama untuk Atasi Pandemi dan Perkuat Arsitektur Kesehatan Dunia. ( Biro Pers Sekretariat Presiden)
Presiden Jokowi Dorong Kerja Sama untuk Atasi Pandemi dan Perkuat Arsitektur Kesehatan Dunia. ( Biro Pers Sekretariat Presiden)

"Vaksin harus secepatnya menjadi vaksinasi. Kolaborasi kita harus menjembatani tantangan vaksinasi, mulai dari pembiayaan, logistik, dan sumber daya manusia," jelasnya.

Jokowi menjelaskan bahwa setidaknya diperlukan tiga hal untuk membangun arsitektur kesehatan dan kesiapsiagaan dunia yang lebih kuat.

Pertama, akses kesehatan yang inklusif. Menurutnya, seluruh masyarakat tanpa terkecuali harus memiliki akses terhadap layanan kesehatan dasar.

"Infrastruktur kesehatan dasar harus memadai dan siap menghadapi pandemi. Di tingkat global, setiap negara besar maupun kecil, kaya maupun miskin, harus memiliki akses yang setara terhadap solusi kesehatan," imbuhnya.

Kedua, akses pembiayaan yang memadai. Terkait hal itu, Jokowi mendorong mekanisme pembiayaan kesehatan baru yang melibatkan negara donor dan bank pembiayaan multilateral karena tidak semua negara memiliki sumber daya untuk memperbaiki infrastruktur kesehatannya.

"Dukungan pembiayaan kesehatan harus dilihat sebagai sebuah investasi dan tanggung jawab bersama mencegah pandemi," lanjutnya.

Ketiga, pemberdayaan. Jokowi menilai, kapasitas kolektif harus diupayakan dan kerja sama antarnegara menjadi kunci. Menurutnya, kerja sama riset, kerja sama transfer teknologi, dan akses ke bahan mentah harus diperkuat.

"Tidak boleh ada monopoli rantai pasok industri kesehatan. Diversifikasi pusat produksi obat, vaksin, alat diagnostik dan terapeutik harus dilakukan. Dengan kapasitasnya, Indonesia siap menjadi hub produksi dan distribusi vaksin di kawasan," tegasnya.

Di akhir pidatonya, Jokowi menegaskan presidensi Indonesia di G20 memberikan perhatian besar terhadap kerja sama kesehatan secara inklusif. Untuk itu diperlukan peran dan keterlibatan semua negara, serta penguatan peran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan multilateralisme.

"Tidak boleh ada yang tertinggal dalam upaya kita membangun arsitektur kesehatan dan kesiapsiagaan dunia yang lebih kuat. Recover together, recover stronger," tutupnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Krisis Datang Bertubi-tubi, Jokowi: Kini Situasi Sangat Sulit


(cha/cha)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading