Internasional

Perang Meluas? AS Warning China soal Rusia-Ukraina

News - Sefti Oktarianisa, CNBC Indonesia
14 April 2022 06:30
Treasury Secretary Janet Yellen speaks during a meeting with President Joe Biden and business leaders about the debt limit in the South Court Auditorium on the White House campus, Wednesday, Oct. 6, 2021, in Washington. (AP Photo/Evan Vucci)

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) memberi peringatan ke China. Negeri Xi Jinping didesak membantu mengakhiri serangan Rusia ke Ukraina.

Hal itu ditegaskan Menteri Keuangan AS Jannet Yellen, saat berbicara di depan lembaga think tank Dewan Atlantik, di Washington, Rabu (13/4/2022) waktu setempat. Ia pun mengancam bakal ada konsekuensi ke ekonomi Tiongkok, jika China berusaha melemahkan sanksi Barat ke Rusia.


"Sikap dunia terhadap China dan kesediaannya untuk merangkulnya dalam integrasi ekonomi, mungkin akan dipengaruhi oleh reaksi China terhadap seruan kami, untuk tindakan tegas terhadap Rusia," tegas Yellen sebagaimana dimuat Reuters.

Menurut Yellen, akan sulit bagi Barat dan China untuk memisahkan ekonomi dari masalah keamanan yang lebih luas. Sejauh ini, ujarnya, Barat belum melihat tujuan dan strategi geopolitik yang baik dari China soal Rusia atau bagaimana konsekuensinya ke tatanan internasional.

"China tidak dapat mengharapkan dunia untuk menghormati seruan dari Beijing di masa depan tentang kedaulatan dan integritas teritorial jika gagal untuk menghormati prinsip-prinsip ini di Ukraina sekarang," tambahnya lagi.

Selama ini, China menentang penggunaan kata "invasi" Rusia dalam perang Moskow dan Kyiv. Invasi adalah kata yang dipakai Barat untuk menggambarkan serangan Rusia ke Ukraina, sementara pemerintah Presiden Vladimir Putin menggunakan kata "operasi militer".

Dalam pernyataan terbaru, Juru Bicara Kedutaan China di AS, Liu Pengyu, mengatakan China dengan tegas menentang mengaitkan hubungan Beijing-Moskow dengan krisis Ukraina. Ia pun menyebut negerinya pasti membela kepentingan dari entitas Tirai bambu.

"China menentang segala bentuk sanksi sepihak dan yurisdiksi jangka panjang AS dan akan dengan tegas membela hak dan kepentingan sah perusahaan dan individu China," katanya dalam pernyataan dimuat di laman sama.

Sebelumnya AS juga telah menekan India, yang juga enggan bersikap soal Rusia-Ukraina. Setelah pertemuan antara PM India Narendra Modi dan Presiden AS Joe Biden, Delhi diketahui tak lagi membeli minyak Rusia dengan mengesampingkannya dalam daftar tender terbaru.

Pengilangan utama India memberi tahu pelaku pasar bahwa minyak mentah Rusia, seperti Ural, tidak lagi ada dalam daftar tender terbaru yang ditutup pada Selasa. Padahal, Bloomberg sempat mencatat India membeli setidaknya 13 juta barel minyak Ural Rusia sejak akhir Februari 2022 lalu.

Reformasi IMF dan Bank Dunia

Sementara itu di kesempatan yang sama, Yellen juga meminta reformasi di dua lembaga ekonomi utama dunia, yakni IMF (Dana Moneter Internasional) dan World Bank (Bank Dunia). Perang di Ukraina membuktikan perlunya perubahan.

"Kita akan perlu memodernisasi institusi kita yang ada, IMF dan bank pembangunan multilateral. Sehingga mereka cocok untuk abad ke-21, di mana tantangan dan risiko secara bertahap bersifat global," katanya.

"Beberapa orang mungkin mengatakan bahwa sekarang bukan waktu yang tepat ... Memang, kita berada di tengah perang Rusia di Ukraina," ujarnya lagi.

"Namun, saya melihat sebagai waktu yang tepat untuk bekerja mengatasi kesenjangan di negara kita, sistem keuangan internasional yang kita saksikan secara real time."

Reformasi ini, ujar Yellen, juga harus dilakukan karena melihat tantangan lain. Seperti Covid-19 dan perubahan iklim.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Jreng! Rusia Minta Bantuan Makanan ke China, Ada Apa?


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading