Internasional

Bukan Resesi! Ekonomi Dunia Terancam War-Cession, Apa Itu?

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
12 April 2022 07:30
FILE - In this image taken from video and released by Russian Defense Ministry Press Service, Russian army's self-propelled howitzers fire during military drills near Orenburg in the Urals, Russia, Dec. 16, 2021. The Russian invasion of Ukraine is the largest conflict that Europe has seen since World War II, with Russia conducting a multi-pronged offensive across the country. The Russian military has pummeled wide areas in Ukraine with air strikes and has conducted massive rocket and artillery bombardment resulting in massive casualties. (Russian Defense Ministry Press Service via AP, File)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perekonomian dunia saat ini berada dalam ancaman yang disebut sebagai war-cession. Hal ini merupakan kondisi di mana resesi yang bukan dipicu oleh buruknya fundamental perekonomian, melainkan karena situasi darurat (force majeur) yakni konflik Ukraina-Rusia.

Dalam sebuah wawancara bersama CNBC International, konsultan investasi ternama, David Roche, mengungkapkan bahwa situasi ini sangat membawa katalis yang buruk bagi ekonomi. Apalagi ini terjadi di tengah-tengah kondisi ekonomi yang belum pulih dari pandemi Covid-19.


Roche menyebutkan peperangan yang terjadi di Ukraina sendiri masih sulit untuk menemukan titik perdamaian. Pasalnya banyak penemuan kejahatan perang yang dituduhkan kepada pihak Rusia sehingga jalan terbaik mungkin adalah dengan melihat perubahan rezim di Negeri Beruang Putih.

"Dia (Presiden Rusia Vladimir Putin) tak akan menegosiasikan penarikan mundur pasukan demi mendapatkan keringanan sanksi, sehingga sanksi-sanksi tersebut masih akan berlaku dan menurut saya implikasinya bagi Eropa adalah anda akan melihat resesi, karena sanksi akan terus bertambah dan menuju blokade ekonomi secara penuh," terangnya dikutip Selasa (12/4/2022).

Uni Eropa (UE) sendiri pekan lalu telah meluncurkan deretan sanksi yang mulai menargetkan impor batu bara asal Rusia dan berencana untuk melakukan aksi yang sama pada minyak dan gas asal Moskow. Benua Biru beralasan bahwa ini dilakukan untuk membuat Kremlin merasakan konsekuensi dari kejahatan perangnya itu.

Tuduhan kejahatan perang ini sendiri semakin kencang dihembuskan setelah terjadinya serangan roket di wilayah Kramatorsk yang dikendalikan oleh tentara Ukraina. Serangan itu membunuh 50 orang lebih dan melukai 100 orang lainnya.

Rusia membantah keras tuduhan di balik serangan itu dan menuding Ukraina sebagai pelaku dari serangan ini. Kremlin menyebut ini merupakan beberapa manuver Kyiv untuk semakin memojokan pihaknya.

Meski begitu, beberapa negara Barat masih terkesan tidak peduli dengan alasan Moskow ini. Bahkan, mereka terus menjatuhkan sanksi yang justru berdampak negatif terhadap perekonomian mereka sendiri dan perekonomian global.

"Ini menjadi kejutan serius dari sisi suplai bahan pangan, energi, logam dan seterusnya. Ini akan terus berlanjut sementara secara bersamaan kita menghadapi inflasi di seluruh dunia dan kenaikan suku bunga acuan," tambah Roche.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Jangan Kaget! Ramai-ramai Warga Rusia Tinggalkan Negaranya


(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading