Harga CPO Melonjak, Pemerintah Pede Bakal Gaspol Biodiesel!

News - Tommy Sorongan, CNBC Indonesia
24 March 2022 13:15
Launching Bahan Bakar B 30 (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Launching Bahan Bakar B 30 (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Yogyakarta, CNBC Indonesia - Di tengah lonjakan harga minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/ CPO), pemerintah tetap yakin bisa melanjutkan program biodiesel, bahkan tak hanya sampai di Biodiesel 30% atau B30, namun juga diteruskan ke B40 hingga B100.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan, pemerintah tidak akan berhenti pada program B30, melainkan akan terus meningkatkan pencampuran biodiesel pada minyak solar lebih tinggi lagi.

"Kita tidak akan berhenti pada B30, sebagaimana kita telah berencana untuk meningkatkan pencampuran biodiesel lebih tinggi lagi dengan menerapkan bahan bakar hijau," tuturnya saat memberikan sambutan dalam acara "3rd Palm Biodiesel Conference" di Yogyakarta, Kamis (24/03/2022).


Dia menjelaskan, saat ini kajian komprehensif terkait peningkatan pencampuran biodiesel ini tengah dilakukan, termasuk kajian tekno-ekonomi, kerangka regulasi, fasilitas insentif, infrastruktur, standar kualitas produk, hingga industri pendukungnya.

"Sebelum penerapannya, penting untuk memastikan bahwa program memenuhi tiga kriteria yaitu kelayakan teknis, nilai keekonomian, dan secara politik dapat diterima oleh semua pihak," ujarnya.

Dia mengatakan, untuk pengembangan bahan bakar hijau ke depannya, pemerintah akan menerapkan indikator keberlanjutan, seperti faktor ekonomi, sosial, dan lingkungan.

"Tahun ini, kita akan mulai dengan penerapan indikator keberlanjutan biodiesel pada sisi hilir. Tapi di masa depan, kami harap ini dapat diimplementasikan baik dari sisi hulu dan hilir," ujarnya.

Menurutnya, bahan bakar berbasis sawit sebagai alternatif bahan bakar minyak fosil yang dapat diandalkan telah memainkan peran penting karena telah berdampak pada beragam aspek kehidupan.

Bahan bakar biodiesel ini diproduksi dari sumber energi terbarukan yang memberikan nilai tambah bagi industri perkebunan dalam negeri, memberikan kestabilan harga CPO, dan meningkatkan kesejahteraan para petani, serta menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar minyak fosil.

"Ini juga bisa mengurangi impor BBM dan menyelamatkan devisa dan neraca perdagangan negara kita, membuka lapangan pekerjaan, dan juga menjaga keamanan pasokan energi kita," ucapnya.

Dia pun meyakini biodiesel di dalam negeri bisa semakin berkembang.

"Kami meyakini kebutuhan bahan bakar berbasis sawit ini sangat besar, pasar kita besar, dan ini akan terus semakin berkembang," tandasnya.

Sebelumnya, beredar kabar bahwa pemerintah akan memangkas program biodiesel B30 menjadi B20 atau B25. Hal ini dipicu lonjakan harga minyak sawit dunia dan kelangkaan pasokan minyak sawit untuk kebutuhan dalam negeri, salah satunya minyak goreng.

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) membenarkan adanya isu tersebut, bahwa saat ini berbagai alternatif kebijakan tengah dikaji oleh pemerintah, salah satunya mengevaluasi kebijakan B30 diturunkan ke B25-B20.

Kabarnya, kajian dilakukan dalam rangka memastikan keamanan pasokan CPO sebagai bahan baku utama minyak goreng yang juga menjadi bahan baku utama B30.

Ketua Harian Aprobi, Paulus Tjakrawan mengungkapkan adanya alternatif penurunan B30 menjadi B20 atau B25 terjadi karena harga minyak sawit dunia yang tinggi saat ini, yang pada akhirnya membuat harga minyak goreng tinggi.

"Ini jadi permasalahan kita. Sekarang bagaimana mengatasinya itu banyak opsi, banyak alternatif. Banyak hal yang dikaji, salah satunya adalah B20 atau B20, salah satu alternatifnya itu," jelas Paulus kepada CNBC Indonesia, Jumat (18/3/2022).

Seperti diketahui, harga CPO dunia memang terus menanjak sejak akhir 2021 lalu. Bahkan, pada 9 Maret 2022 sempat menembus MYR 7.074 per ton, terus menanjak sejak pertengahan Desember 2021 yang berada pada harga MYR 4.300 per ton.

Pada hari ini, Kamis (24/03/2022), harga minyak sawit mentah (CPO) melonjak pada sesi awal perdagangan. Dengan begitu, harga CPO telah melesat selama tiga hari beruntun.

Mengacu pada data Refinitiv, pukul 09:00 WIB, harga CPO dibanderol di level MYR 6.312 per ton atau naik 1,94%.

Analis Reuters, Wang Tao menilai harga CPO hari ini akan melanjutkan kenaikannya ke kisaran MYR 6.548-6.686 per ton. Tren kenaikan yang kuat dalam beberapa hari ini mengindikasikan harga CPO akan terus naik.

Namun, apabila harga CPO menembus ke bawah titik support di MYR 6.188 per ton, maka akan menyebabkan penurunan ke kisaran MYR 5.966-6.104 per ton.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Konsumsi Solar Naik, Alokasi Biodiesel Ditambah 213 Ribu KL


(wia)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading