Setinggi-tingginya Harga Minyak, Lebih Sakit Saat Turun!

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
21 March 2022 10:40
CAPAIAN HULU MIGAS Januari - April 2019

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah dunia dalam beberapa minggu ini nyaman bertengger di atas US$ 100 per barel. Sampai pada Senin pagi ini (21/3/2022), harga minyak mentah jenis Brent menyentuh levele US$ 110,72 per barel.

Lalu apakah tingginya harga minyak dunia itu bisa mendongkrak investasi migas di tanah air?

Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas), Moshe Rizal mencatat, sejatinya kenaikan harga minyak mentah dunia sudah terjadi sebelum adanya perang antara Rusia dan Ukraina. Panasnya geopolitik kedua negara itulah yang membentuk harga minyak semakin melejit.


Sehingga, kata Moshe, kenaikan harga minyak mentah dunia itu belum berpengaruh terhadap investasi migas di tanah air. Alasannya, saat ini investor dunia juga masih wait and see lantaran situasi masih tidak menentu dipicu pandemi dan juga perang Rusia dan Ukraina ini.

Di satu sisi, kata Moshe, kenaikan harga minyak dunia yang tinggi ini memang bagus untuk investasi. Namun lagi-lagi, perusahaan-perusahaan migas saat ini masih melihat pergerakan atau situasi ke depan dan berhati-hati dalam berinvetasi serta mengelola portfolionya.

"Setinggi-tingginya harga, akan jauh lebih sakit turunnya nanti. Istilahnya investor tidak suka banget harga terlalu tinggi, kalau turun dramatis dan banyak dampaknya," terang Moshe kepada CNBC Indonesia, Senin (21/3/2022). Yang terang, investor saat ini cenderung lebih suka dengan harga minyak mentah dunia yang stabil.

Berkenaan dengan itu, meskipun harga minyak mentah dunia tengah mengalami kenaikan, Indonesia juga masih belum bisa mengambil momentum untuk mendongkrak produksi migasnya. Hal itu lantaran lapangan-lapangan migas di Indonesia sudah uzur atau tua.

"Lapangan minyak di Indonesia adalah lapangan tua, untuk meningkatkan produksi bukan sesimple buka keran, dan tak semudah seperti di Saudi Arabia untuk produksi. Sementara OPEC tidak ada niat meningkatkan produksi. Bukan berarti Indonesia semata-mata bangkit lagi dan mengangkat produsikia 750 BOPD, tidak semudah itu," terang Moshe kepada CNBC Indonesia, Senin (21/3/2022)


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Duh RI, Harga Minyak Meroket Tapi Ngga Ngefek ke Produksi


(pgr/pgr)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading