Harga Pengganti LPG Bisa Lebih Murah dari LPG, Cek Nih Bund!

News - Wilda Asmarini, CNBC Indonesia
26 January 2022 13:30
INFOGRAFIS, Proyek Gasifikasi RI

Jakarta, CNBC Indonesia - Besarnya impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) tak ayal membuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) geram dan terus menyerukan "para pembantunya" untuk mencari alternatif pengganti LPG.

Presiden Jokowi menyebut, impor LPG RI mencapai Rp 80 triliun dari total kebutuhan Rp 100 triliun per tahun. Itu pun, lanjutnya, masih disubsidi sekitar Rp 60-70 triliun per tahun. Oleh karena itu, pengurang impor LPG menurutnya harus segera dilakukan dengan mencari alternatif bahan bakar lainnya.

"Impor kita LPG itu gede banget, mungkin Rp 80 triliun dari kebutuhan Rp 100 triliun. Impornya Rp 80 triliun, itu pun harus disubsidi untuk sampai ke masyarakat karena subsidi Rp 60-70 triliun," ungkapnya saat groundbreaking proyek Dimethyl Ether (DME) di Kawasan Industri Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Senin (24/01/2022).


Salah satu alternatif pengganti LPG yang akhirnya mulai diresmikan pembangunannya yaitu proyek DME di Tanjung Enim yang dikerjakan bersama antara PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Pertamina (Persero) dan Air Products & Chemicals Inc (APCI), perusahaan petrokimia asal Amerika Serikat.

Presiden Jokowi pun turut meresmikan groundbreaking proyek DME senilai Rp 33 triliun tersebut pada Senin (24/01/2022). Jokowi mengatakan, dirinya sudah memerintahkan agar gasifikasi batu bara menjadi DME sejak enam tahun lalu.

Meski butuh waktu panjang untuk merealisasikannya, akhirnya produk pengganti LPG ini bisa segera dinikmati masyarakat dalam 30 bulan mendatang atau sekitar 2,5 tahun ke depan, sekitar pertengahan 2024.

"Saya sudah berkali-kali sampaikan mengenai hilirisasi, industrialisasi. Pentingnya mengurangi impor. Ini sudah enam tahun yang lalu saya perintah, tapi alhamdulillah hari ini meski dalam jangka panjang belum bisa dimulai, alhamdulillah bisa kita mulai hari ini, groundbreaking proyek hilirisasi batu bara menjadi DME," ungkapnya

Lantas, berapakah perkiraan harga pengganti LPG ini? Apa iya bisa lebih murah dibandingkan harga LPG?

Berdasarkan informasi dari Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Ditjen Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), terkait kesepakatan struktur harga DME dari hasil pertemuan tiga menteri, yakni Menteri BUMN, Menteri ESDM, dan Menteri Investasi, diusulkan harga DME ex-factory sebesar US$ 378 per ton, porsinya menjadi kesepakatan antara PTBA dan Air Products.

"Harga DME bersifat fixed-price, tidak ada eskalasi harga batu bara dan Process Service Fee (PSF)," tulis bahan pemaparan Dirjen Minerba, Kamis (20/01/2022).

Sebagai perbandingan, harga LPG merujuk pada Contract Price Aramco (CP Aramco). Saudi Aramco, raksasa minyak asal Arab Saudi, menetapkan harga propana dan butana yang merupakan komponen LPG pada Januari 2022 ini masing-masing sebesar US$ 740 per metrik ton dan US$ 710 per metrik ton, mengutip S&P Global.

Bahkan, pada November 2021 CP Aramco sempat mencapai US$ 847 per metrik ton, harga tertinggi sejak tahun 2014 atau naik 57% sejak Januari 2021.

Seperti diketahui, untuk harga LPG non subsidi pada akhir Desember 2021 lalu telah naik menjadi Rp 11.500 per kilo gram (kg), naik sekitar Rp 1.600-Rp 2.600 per kg dari harga sebelumnya. Di pasaran retail atau tingkat konsumen, harga LPG non subsidi seperti tabung 12 kg berwarna biru bahkan telah naik menjadi sekitar Rp 175 ribu-Rp 177 ribu per tabung.

Kenaikan harga LPG non subsidi ini dipicu dari kenaikan CP Aramco, terutama pada November 2021 tersebut.

Dengan demikian, bila harga DME benar akan ditetapkan sebesar US$ 378 per ton, maka artinya ini bisa lebih murah dari harga LPG, bahkan bisa separuh harga lebih murah daripada harga LPG, dari sisi biaya bahan baku.

Pjs. Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga Irto Ginting mengatakan, bila memang harga DME diusulkan sebesar itu, maka artinya selisih harganya memang setengah dari harga LPG. Bila ini terjadi, menurutnya ini akan menjadi harga yang menarik.

Namun menurutnya, untuk kepastian harga masih belum ditentukan dan masih dibahas pemerintah.

"Kalau selisihnya (harga DME dan CP Aramco) sampai setengahnya tentu akan menarik, kalau dibandingkan dengan CP Aramco bulan ini. Namun CPA ini fluktuatif," tuturnya kepada CNBC Indonesia, Selasa (25/01/2022).

Dia mengatakan, harga pengganti LPG ini nantinya akan ditentukan pemerintah. Pertamina dalam hal ini bertindak sebagai pembeli (offtaker) dari produk DME.

"Harga (DME) ditentukan pemerintah. Pertamina sebagai offtaker-nya," ucapnya.

Seperti diketahui, proyek DME yang diresmikan groundbreaking-nya ini merupakan proyek senilai Rp 33 triliun yang dikerjakan bersama antara PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Pertamina (Persero) dan Air Products & Chemicals Inc (APCI), perusahaan petrokimia asal Amerika Serikat.

Adapun investasi untuk pembangunan proyek ini sepenuhnya dilakukan oleh Air Products, sementara PTBA akan berperan memasok batu bara, dan Pertamina sebagai pembeli produk DME nantinya.

Proyek DME di Tanjung Enim ini rencananya beroperasi selama 20 tahun. Dengan utilisasi 6 juta ton batu bara per tahun, proyek ini dapat menghasilkan 1,4 juta DME per tahun untuk mengurangi impor LPG 1 juta ton per tahun, sehingga dapat memperbaiki neraca perdagangan.

Perlu diketahui, impor LPG Indonesia mencapai sekitar 6-7 juta ton per tahun.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Potret Stok LPG Pertamina Sebelum Diganti "LPG" Batu Bara


(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading