Jokowi 'Ngamuk', RI Rugi Rp7 Triliun Setahun Gegara Ini

News - Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
26 January 2022 08:45
Presdien Joko Widodo (Jokowi) Saat Groundbreaking Proyek Hilirisasi Batu Bara Menjadi Dimetil Eter, Kab. Muara Enim, Senin (24/1/222). (Tangkapan Layar Youtube Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Joko Widodo (Jokowi) tak dapat menutupi rasa kekesalannya mengetahui fakta bahwa Indonesia masih kecanduan impor gas tabung alias Liquefied Petroleum gas (LPG).

Hal tersebut dikemukakan Jokowi saat menyaksikan pelepasan ekspor perdana Smelter Grade Alumina (SGA) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang, Bintan, Kepulauan Riau, seperti dikutip Rabu (26/1/2022).

"Kita punya bahan baku buanyak sekali, guede sekali. Kita malah impor LPG Rp 80 triliun setap tahun," tegas Jokowi


Jokowi lantas menyinggung proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethryl Ether (DME) sebagai salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG.

Proyek DME pertama di Indonesia yang diresmikan di Tanjung Enim itu sendiri diperkirakan dapat menghasilkan 1,4 juta DME per tahun untuk mengurangi impor LPG 1 juta ton per tahun dan menghemat subsidi LPG Rp 7 triliun.

"Kita ekspor batu bara, mentahan terus, mentahan, mentahan, mentahan. Padahal yang namanya batu bara itu bisa jadi metanol, DME," tegasnya.

Jokowi mengaku geram lantaran selama ini hasil kekayaan alam Indonesia tidak pernah teroptimalisasi dengan baik, dan malah justru negara lain yang mendapatkan keuntungannya.

"Terlalu nyaman kita ini. Terlalu enak. Orang lain yang dapat, negara lain yang dapat, dia dapat nilai tambahnya, dia dapat lapangan kerjanya, dia dapat pajaknya," katanya.

"Coba kalau kita buat industri seperti ini. Kita dapat royalti, kita dapat pajak perusahaannya, kita dapat pajak pribadinya, ekspor ke luar, kita dapat PNBP, semua dapat," tegas Jokowi


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Jokowi Bilang Kita Bodoh, Ini Daftar Barang Impor RI


(cha/cha)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading