Internasional

Awas Perang, Ramai Negara Pulangkan Staf Kedutaan di Ukraina

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
26 January 2022 09:05
Foto selebaran yang dirilis pada hari Rabu, 14 April 2021 oleh Layanan Pers Kementerian Pertahanan Rusia menunjukkan, Sebuah kapal angkatan laut Rusia terlihat selama latihan angkatan laut di Laut Hitam. Rusia bersikeras bahwa mereka memiliki hak untuk menutup wilayah Laut Hitam untuk kapal angkatan laut asing dan menolak kritik Ukraina dan Barat atas tindakan tersebut. (Russian Defense Ministry Press Service via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ramai-ramai negara Barat memulangkan staf kedutaan dan keluarga dari Ukraina. Bukan hanya Amerika Serikat, tapi juga Inggris hingga Australia.

Ini terjadi di tengah makin panasnya konflik Rusia dan Ukraina, yang melibatkan AS dan NATO. Negara Eropa lain juga menegaskan akan menolong warganya jika ingin meninggalkan Ukraina.


AS sendiri memberi pernyataan lewat Kementerian Luar Negeri. "Meningkatnya ancaman serangan Rusia," tulis pemerintah Joe Biden, di laman website kementerian sejak awal pekan ini.

Keberangkatan anggota keluarga staf kedutaan Kyiv yang memenuhi syarat diperbolehkan. Termasuk, keberangkatan sukarela pegawai kedutaan.

Associated Press (AP) menulis keberangkatan akan dibiayai pemerintah AS. Namun ditegaskan AS, ini bukan merupakan evakuasi.

"Kondisi keamanan, terutama di sepanjang perbatasan Ukraina, di Krimea yang diduduki Rusia dan di Ukraina timur yang dikuasai Rusia, tidak dapat diprediksi dan bisa memburuk," kata kementerian lagi.

"Langkah itu tidak mencerminkan pelonggaran dukungan AS untuk Ukraina dan telah dipertimbangkan selama beberapa waktu," tegas kementerian mengatakan bahwa kedutaan akan tetap buka.

Inggris sendiri juga memberi peringatan di media sosial. Alasannya pun sama.

"#Ukraina. Beberapa staf dan tanggungan Kedutaan Besar ditarik dari Kyiv sebagai tanggapan atas meningkatnya ancaman dari Rusia," tulis laman @FCDOtravelGovUK."

"Kedutaan Besar Inggris tetap buka dan akan terus melakukan pekerjaan penting."

Australia, mengutip DW, juga mengikuti. Dilaporkan, Sydney Morning Herald, Canberra meminta warganya pergi dan menarik semua anggota keluarga.

Sementara itu Jerman mengumumkan akan membantu anggota keluarga staf kedutaan meninggalkan Ukraina jika mereka mau. Kementerian luar negeri Norwegia juga mengeluarkan peringatan baru yang menyarankan warganya untuk menghindari perjalanan yang tidak penting ke Ukraina.

Persoalan Rusia dan Ukraina kompleks. Bukan hanya melibatkan klaim wilayah, dalam hal ini Krimea yang dicaplok Rusia tahun 2014, tapi juga hegemoni Rusia dan Barat.

Sejak revolusi terjadi di tahun yang sama, yang menyingkirkan pemimpim pro-Rusia di negara itu, Ukraina semakin dekat dengan Barat. Bahkan Ukraina berniat menjadi bagian NATO.

Rusia menentang ini terjadi. Dikhawatirkan akan ada pangkalan militer NATO di dekat Rusia.

Dalam pembicaraan damai Putin kerap meminta jaminan AS dan NATO terkait hal tersebut. Namun selalu deadlock, termasuk Jumat lalu.

Rusia sendiri diyakini sudah menempatkan 100.000 pasukan di dekat Ukraina. Rusia juga akan melakukan latihan militer dengan Belarusia, sekutunya, yang dianggap Barat bagian dari rencana invasi.

Sementara itu AS dan NATO dikabarkan telah mengirimkan kapal perang ke Ukraina. Jet-jet tempur juga dilaporkan siap memperkuat NATO.

Mobilisasi alutsista baru-baru ini dilakukan Denmark, Spanyol dan Belanda. Bos NATO menyebut ini dilakukan guna melindungi anggota.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Drama Perang Masih Lanjut, AS Sebut Damai Rusia Palsu


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading