Ukraina Tegang, Harga Minyak 'Terbang'

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
26 January 2022 08:25
Ukrainian soldiers stand at their Hamvee on the line of separation from pro-Russian rebels, in Mariupol, Donetsk region, Ukraine, Thursday, Jan. 20, 2022. President Joe Biden has warned Russia's Vladimir Putin that the U.S. could impose new sanctions against Russia if it takes further military action against Ukraine. U.S. Secretary of State Antony Blinken is warning of a unified,

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak melonjak. Si emas hitam membukukan kenaikan harga hingga lebih dari 2% pada perdagangan pagi hari ini.

Pada Rabu (26/1/2022) pukul 07:41 WIB, harga minyak jenis brent berada di US$ 88,2/barel. Melesat 2,24% dari posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Sedangkan yang jenis light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) harganya US$ 85,6/barel. Menanjak 2,29%.


Setidaknya ada tiga sentimen yang mengerek harga minyak. Satu, ketegangan di perbatasan Ukraina membuat pelaku pasar (dan seluruh dunia) was-was.

Rusia masih menempatkan lebih dari 100.000 pasukan di perbatasan Ukraina. Hal ini membuat negara-negara barat protes keras, karena menilai Rusia sedang bersiap untuk melakukan invasi di wilayah eks Uni Soviet tersebut. AS balas menggertak dengan menyiagakanh 8.500 personel angkata bersenjata untuk diterjunkan ke Eropa sewaktu-waktu.

Ketegangan ini bukan tidak mungkin tereskalasi dan berujung ke konfrontasi militer alias perang. Jika ini terjadi (amit-amit), maka pasokan minyak dari Rusia ke pasar dunia pasti akan terganggu. Padahal Rusia adalah salah satu produsen minyak utama dunia.

Sentimen kedua, ketegangan juga terjadi di Timur Tengah. Uni Emirat Arab menuding kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran berada di balik serangan yang menewaskan tiga warga sipil pekan lalu.

Uni Emirat Arab pun siaga, lebih tepatnya paranoid. Kementerian Dalam Negeri melarang siapapun untuk menerbangkan drone selama sebulan karena drone bisa menjadi sarana untuk melakukan serangan.

"Kementerian Dalam Negeri saat ini melarang seluruh drone untuk terbang. Termasuk pesawat ringan," tegas keterangan tertulis Kementerian Dalam Negeri Uni Emirat Arab.

Selain Rusia, Timur Tengah adalah kawasan penghasil minyak utama dunia. Bahkan kawasan ini jadi produsen minyak nomor satu. Jadi kalau terjadi gangguan di sana, maka produksi dan distribusi pasti terganggu sehingga mendongkrak harga.

Sentimen ketiga, negara-negara OPEC+ masih kesulitan untuk meningkatkan produksi. Pada Desember 2021, produksi minyak negara-negara OPEC+ adalah 790.000 ribu barel/hari di bawah target. Negara-negara seperti Nigeria dan Angola kesulitan menggenjot produksi karena minimnya investasi baru.

TIM RISET CNBC INDONESIA

Artikel Selanjutnya

Lockdown di Mana-mana, Harga Minyak Ambles 1% Lebih


(aji/aji)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading