Jokowi Mau Setop Ekspor Bauksit, Cek Sebesar Ini Ekspornya!

News - Wilda Asmarini, CNBC Indonesia
10 January 2022 13:50
Pertambangan bauksit PT Aneka Tambang (Antam)‎ (Persero) di Tayan Hilir, Kalimantan Barat (Kalbar), (CNBC Indonesia/Muhammad Choirul Anwar)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali menegaskan akan menyetop ekspor bahan mentah tambang yakni bauksit pada 2022 ini. Selanjutnya, pada 2023 ekspor konsentrat tembaga juga akan disetop.

"Tahun ini segera kita akan setop bahan mentah bauksit. Tahun depan kita setop bahan mentah tembaga," ungkap Jokowi dalam acara HUT PDI Perjuangan, Senin (10/1/2022).

Hal ini menyusul keputusan penghentian ekspor bahan mentah atau bijih nikel pada 2020. Presiden menyebut, hilirisasi ini sangat dibutuhkan untuk menambah lapangan kerja dan menyejahterakan masyarakat.


"Karena dampak hilirisasi industri ini sangat besar. Selain membuka lapangan kerja untuk rakyat akan memberikan nilai tambah yang besar," ujarnya.

Lantas, seberapa besar ekspor bauksit Indonesia selama ini?

Berdasarkan data Booklet Bauksit 2020 yang dirilis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pada 2019 produksi bauksit Indonesia tercatat mencapai sekitar 16 juta ton. Jumlah ini merupakan 4,3% dari total produksi bijih bauksit dunia yang mencapai 370 juta ton.

"Pada tahun 2019 Indonesia produsen bijih bauksit terbesar keenam dunia," tulis Booklet Bauksit 2020 tersebut.

Data tersebut menyebutkan bahwa ekspor bauksit Indonesia pada 2019 mencapai 16,1 juta ton, sementara yang digunakan untuk pabrik pengolahan bauksit menjadi alumina tercatat sekitar 2,9 juta ton bijih bauksit per tahun.

Ini berarti, sebagian besar bijih bauksit yang dihasilkan di dalam negeri masih diekspor.

Masih rendahnya penyerapan bauksit di dalam negeri ini disebabkan oleh masih sedikitnya pabrik pengolahan bauksit di Tanah Air.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, saat ini baru terdapat dua smelter bauksit menjadi alumina yang telah beroperasi, yaitu Smelter Grade Alumina (SGA) yang dioperasikan PT Well Harvest Winning AR dan smelter Chemical Garde Alumina (CGA) yang dioperasikan PT Indonesia Chemical Alumina, anak usaha PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).

Ke depannya, pemerintah menargetkan pembangunan 12 smelter alumina baru. Bila itu tuntas dibangun dan mulai beroperasi, maka kapasitas input bijih bisa melonjak menjadi 35 juta ton per tahun.

"Sedangkan, terdapat 12 pabrik pemurnian alumina yang masih dalam tahap konstruksi dengan kapasitas input bijih bauksit mencapai lebih dari 35 juta ton per tahun," ungkap Direktur Pembinaan Program Minerba Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sunindyo Suryo kepada CNBC Indonesia belum lama ini.

Bila itu terealisasi, maka menurutnya diperkirakan cadangan bijih bauksit Indonesia bisa cukup untuk 78 tahun. Namun ke depannya, pihaknya tetap terus mendorong eksplorasi, sehingga cadangan bauksit ini semakin meningkat dan semakin panjang umur cadangannya.

Peningkatan cadangan ini akan dilakukan melalui kegiatan eksplorasi dan verifikasi data dan sumber daya dan cadangan.

"Peningkatan kegiatan eksplorasi bijih bauksit diperlukan karena umur cadangannya berkisar 78 tahun pada laju konsumsi bijih kering sebesar 36,9 juta ton per tahun," lanjutnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Punya Harta Karun Bauksit, RI Impor Aluminium 748.000 Ton!


(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading