Internasional

Duh, Ada Kabar Kurang Enak Lagi dari China

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
15 December 2021 15:05
People visit a U.S. hypermarket chain Costco Wholesale Corp store in Shanghai, China August 28, 2019. REUTERS/Aly Song

Jakarta, CNBC Indonesia - Penjualan ritel China meleset dari ekspektasi pada November. Penjualan ritel hanya tumbuh sebesar 3,9% dari tahun lalu, di bawah perkiraan kenaikan year-to-year (yoy) 4,6% oleh jajak pendapat Reuters.

Data dari Biro Statistik Nasional yang dirilis Rabu (15/12/2021) memaparkan hal itu terjadi karena penjualan mobil telah turun dalam beberapa bulan terakhir. Festival belanja online "Single Day" besar-besaran pada awal November tak banyak membantu.


Penjualan online barang fisik hanya naik 13,2%. Ini lebih lambat pada November dibandingkan dengan 14,6% Oktober. 

"Angin berat dan ketidakpastian mengaburkan laju pemulihan ekonomi China," kata Kepala Penelitian Makro dan Strategi China Renaissance Bruce Pang, dalam sebuah catatan, dikutip CNBC International. Ia mengharapkan Beijing meningkatkan dukungannya untuk pertumbuhan dalam beberapa bulan mendatang.

Produksi industri tumbuh sebesar 3,8% pada November dari tahun lalu, melampaui ekspektasi 3,6% jajak pendapat. Investasi aset tetap untuk tahun ini hingga November tumbuh 5,2% dari periode yang sama tahun lalu, lebih lambat dari perkiraan jajak pendapat kenaikan 5,4%.

"Ekonomi tetap cukup lemah pada bulan November," kata Kepala Ekonom Pinpoint Asset Management Zhiwei Zhang mengatakan dalam sebuah catatan.

Dia mengaitkan pelemahan lebih lanjut dalam konsumsi domestik dengan kebijakan "toleransi nol" China untuk mengendalikan Covid-19. Belum lagi perlambatan di sektor properti dan kebijakan fiskal yang ketat.

"Kebijakan fiskal akan berubah mendukung, tetapi kebijakan toleransi nol kemungkinan akan tetap tidak berubah, dan prospek properti masih belum jelas. Masih harus dilihat apakah dukungan kebijakan dapat menstabilkan ekonomi dalam beberapa bulan mendatang," katanya.

Ekonomi China telah menghadapi tekanan dari perlambatan di pasar properti karena Beijing berusaha untuk mengekang ketergantungan pengembang pada utang. Real estat, bersama dengan industri terkait, menyumbang sekitar seperempat dari produk domestik bruto China, menurut Moody's.

Pembatasan perjalanan intermiten untuk mengendalikan kasus Covid juga membatasi aktivitas wisata dan bisnis. Sementara belanja konsumen telah ditundukkan.

Ekspektasi pendapatan merupakan faktor utama pengeluaran konsumen. Pang mencatat bahwa indeks manajer pembelian resmi menunjukkan tekanan pasar kerja di bidang manufaktur dan jasa, sementara perekrutan di sektor konstruksi telah berkembang lebih lambat.

Tingkat pengangguran perkotaan naik hingga 5% pada November dari 4,9% pada Oktober, menurut data dari biro statistik. Tingkat pengangguran bagi mereka yang berusia 16 hingga 24 tahun tetap tinggi 14,3%.

Ekspor tetap menjadi titik terang bagi ekonomi China. Di mana ada kenaikan 22% pada November dari tahun lalu.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bertubi-tubi, China Kirim Kabar Buruk Lagi soal Ekonomi


(tfa)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading