China Babak Belur 'Dihajar' Banyak Krisis, RI Kena Apesnya?

News - Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
28 November 2021 07:00
Xi Jinping. (REUTERS/Jason Lee)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejak pandemi Covid-19, nasib China seakan tidak berjalan dengan mulus. Sebab ramai-ramai krisis menghantam Negeri Tirai Bambu tersebut secara berturut-turut.

Lantas, apa saja krisis yang menerpa China?

Salah satu krisis yang menghantui China saat ini adalah krisis listrik, yang dikabarkan bakal makin meluas sejak beberapa bulan lalu. Krisis ini terjadi karena akumulasi sejumlah masalah.


China kekurangan batu bara yang mendominasi 70% sumber listrik. Ini terjadi setelah rekor harga bahan bakar yang tinggi, serta permintaan industri pasca pandemi yang meningkat seiring desakan menggunakan industri yang lebih ramah lingkungan.

Krisis listrik di China tidak memberatkan rumah tangga, tetapi ini juga menyebabkan gangguan produksi di banyak pabrik. Hampir 20 wilayah di negara tersebut mengalami gangguan pemadaman di hampir 20 wilayah.

Melonjaknya harga energi berimplikasi pada kenaikan harga produsen ke level tertinggi setidaknya dalam 25 tahun pada September. Pekan lalu, harga naik 10,7% dari tahun sebelumnya.

Selain itu musim dingin yang akan datang juga kemungkinan memperburuk situasi. Pusat Meteorologi China memperkirakan angin kencang akan menurunkan suhu rata-rata hingga 14 derajat celcius pekan ini.

Suhu di China utara misalnya, sudah turun di bawah normal. Ini makin meningkatkan permintaan pemanas di tengah krisis listrik.

Tiga provinsi timur laut, Jilin, Heilongjiang dan Liaoning, yang saat ini juga kekurangan listrik, juga memulai penggunaan pemanas untuk musim dingin. Hal yang sama juga terjadi di provinsi Mongolia Dalam dan Gansu yang bergantung pada PLTU batu bara untuk mengatasi cuaca yang lebih dingin dari biasanya.

Sebenarnya, pemerintah Beijing disebut sudah mulai melakukan sejumlah langkah untuk menahan kenaikan harga batu bara dan meningkatkan produksi. Pemerintah juga menerapkan penjatahan listrik di pabrik-pabrik.

China disebut menyetujui 153 tambang baru untuk meningkatkan kapasitas. Negeri itu berharap bisa menambah pasokan hingga 55 juta ton pasukan di kuartal IV 2021. Namun sayangnya Sebanyak 60 tambang batu bara dikabarkan tenggelam.

Selain krisis listrik, China juga diperkirakan mengalami stagflasi. Ekonomi yang melambat tetapi inflasi tinggi inilah yang dikenal dengan istilah stagflasi dan menjadi 'mimpi buruk' bagi china, karena pelaku ekonomi harus membayar mahal demi pertumbuhan ekonomi yang biasa saja.

Keterbatasan pasokan bahan baku, tenaga kerja, plus krisis energi membuat biaya produksi membengkak di China.

Inflasi tingkat produsen (Producer Price Index/PPI) China pun melonjak tajam. Pada September 2021, PPI China mencapai 10,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Ini adalah rekor tertinggi setidaknya sejak 1996.

Saat tekanan inflasi mulai terasa, output perekonomian malah melambat. Ini terlihat dari aktivitas manufaktur yang dicerminkan dengan Purchasing Managers' Index (PMI).

Biro Statistik Nasional China (NBS) melaporkan PMI manufaktur periode Oktober 2021 adalah 49,2, turun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 49,6, sekaligus jadi terendah sejak Februari 2020.

Perlu diketahui, PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Di bawah 50 berarti dunia usaha sedang berada di fase, tidak ada ekspansi.

Padahal, manufaktur di China memiliki peranan yang sangat vital bagi perekonomian. Dalam 10 tahun terakhir, rata-rata sektor ini menyumbang 29,06% dalam pembentukan Produk Domestik Bruto.

Tanda-tanda stagflasi makin terlihat di China. Harga barang di negeri itu terus naik sementara data manufaktur menunjukkan produksi melambat.

Selain itu, gelombang baru Covid-19 akibat varian Delta di China juga makin menyebar. Setidaknya, sejak klaster wisata ditemukan 17 Oktober, hingga Minggu (14/11/2021) sudah ada 1.308 kasus lokal yang dideteksi pemerintah Tirai Bambu.

Mengutip Reuters, ini merupakan rekor jika dibandingkan gelombang yang muncul musim panas lalu di Nanjing, Juli 2021. Saat itu, jumlah kasus terkait sebanyak 1.280.

Dalam update terbaru, Covid juga menyebar di 21 wilayah provinsi. Terbaru, Covid-19 kini mewabah di kota Dahlian, Provinsi Liaoning.

Sejak pasien bergejala lokal pertama di Dalian dari wabah terbaru dilaporkan pada 4 November, kota pelabuhan berpenduduk 7,5 juta orang itu telah mendeteksi rata-rata sekitar 24 kasus lokal baru sehari. Jumlah ini lebih banyak daripada kota-kota China lainnya.

Ini juga membuat kota-kota terdekat yakni Dandong, Anshan dan Shenyang mengambil kebijakan khusus pada mereka yang datang dari Dalian. Mereka harus dikarantina di fasilitas terpusat selama 14 hari.

Dalian merupakan pintu pengiriman makanan laut serta buah-buahan dan beberapa daging. Akibat Covid-19, pemerintah juga meminta semua bisnis yang menangani makanan dingin dan beku impor untuk menangguhkan operasi.

Hingga kini China daratan telah melaporkan total 98.368 kasus virus corona yang dikonfirmasi dengan gejala, termasuk infeksi yang ditularkan di dalam negeri dan yang dari luar negeri. Sementara ada 4.636 kematian.

Apakah krisis China akan berdampak pada Indonesia?

Indonesia saat ini masih sangat bergantung dari produk China terutama bahan baku. Tidak dipungkiri krisis bahan baku akan menjadi masalah berikutnya, kalau negeri panda tidak bisa menjawab permintaan karena krisis energi. Salah satu sektor yang terdampak adalah industri alas kaki.

Director Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Firman Bakrie mengatakan 60% bahan baku alas kaki sudah bisa diproduksi dalam negeri, sementara sisanya masih bergantung dari China, Vietnam dan Eropa. Namun dia mengakui kondisi saat ini membuat pelaku usaha kesulitan mencari bahan baku.

"Ketika mereka terjadi krisis energi, dan gelombang covid kedua, kita mulai kesulitan bahan baku. Begitu juga dari Eropa bergantung juga dari China. Jadi ketika ada barang dari Eropa yang mau masuk Indonesia juga jadi mahal," katanya kepada CNBC Indonesia.

Krisis kontainer juga menjadi masalah yang belum selesai. Padahal saat ini permintaan alas kaki sedang melonjak di pasar global. Firman membeberkan data ekspor paling tidak naik 26% dari tahun sebelumnya.

"2020 lalu kita ekspor US$ 4,8 miliar posisi sekarang naik 25%. Belum lagi ditambah rencana investasi baru masuk Indonesia," jelasnya.

Firman membeberkan ada investor bahan baku yang masuk Indonesia, sehingga diharapkan beberapa tahun kemudian Indonesia tidak lagi bergantung pada bahan baku impor.

"Kita harap tidak lagi bergantung pada impor. Saya harap kita membuka diri buka insentif untuk bahan baku, karena posisinya kita butuh bahan baku dari dalam negeri," katanya.

Wakil Ketua Bidang Manufaktur Gabungan Pengusaha Ekspor Impor (GPEI) Bob Azam mengatakan tidak hanya sektor alas kaki yang mengalami kelangkaan bahan baku. Namun industri lain seperti kimia, tekstil, otomotif juga kena kasus serupa.

"Seperti tekstil pada komoditi kapas yang melonjak, otomotif juga serupa karena komponen semi konduktor. Karena tahun lalu sempat alokasi semi konduktor itu untuk fokus pada barang elektronik tidak pada otomotif," katanya.

Bob mengingatkan jangan menaruh investasi pada satu tempat. Karena ketika China menghadapi masalah imbasnya besar ke negara-negara yang bergantung.

Namun dari masalah ini diharapkan Indonesia juga mendapatkan berkah dari relokasi pabrik yang ada di China. Ditambah dengan adanya Undang-Undang Ciptakerja yang memudahkan bagi investasi yang masuk ke RI.


[Gambas:Video CNBC]

(cha/cha)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading