Internasional

3 Fakta China Minta Warga Segera 'Timbun' Makanan Pokok

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
03 November 2021 13:05
Shelves are empty as residents rush to stock up on necessities at a supermarket after authorities lockdown near residential blocks to prevent the spread of the COVID-19 in Wuhan city in central China's Hubei province Monday, Aug. 2, 2021. Chinese authorities announced Tuesday the mass testing of Wuhan as an unusually wide series of COVID-19 outbreaks reached the city where the disease was first detected in late 2019. (Chinatopix via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah China mendesak warganya untuk mulai 'menimbun' bahan-bahan kebutuhan sehari-hari. Pemberitahuan diberikan secara resmi oleh Kementerian Perdagangan, Senin (1/11/2021) malam waktu setempat.

Hal ini mendadak membuat gelombang kepanikan di media China. Sejumlah netizen berspekulasi soal apa yang terjadi.


"Pemerintah bahkan tidak menyuruh kami untuk menimbun barang saat wabah Covid merebak di awal 2020," tulis salah satu pengguna Weibo menanggapi kabar tersebut.

"Mungkin pihak berwenang mengingatkan orang-orang bahwa mereka mungkin tidak mampu membeli sayuran musim dingin ini," ujar yang lain.

Berikut fakta-fakta mengapa pemerintahan Presiden Xi Jinping meminta warganya menimbun makanan.

1. Alasan

Perintah penimbunan makanan terjadi akibat sejumlah masalah yang menyerang negara tersebut. Mulai dari cuaca buruk, kekurangan energi, hingga pembatasan sosial akibat Covid-19 yang akan mengganggu pasokan.

Pemerintah Daerah (Pemda) diminta wajib memastikan hal ini. Kebutuhan juga termasuk sayuran, minyak dan unggas untuk kebutuhan darurat. Bukan hanya untuk musim dingin ini, China meminta warga menyetok makanan hingga musim semi.

2. Lockdown Covid-19

Sementara media ekonomi setempat, menulis bahwa pemerintah hanya mengingatkan tiap keluarga agar bersiap pada penguncian (lockdown). Ini akibat gelombang baru Covid-19 di Negeri Tirai Bambu.

Klaster Covid-19 baru muncul sejak 17 Oktober dari sebuah grup wisata. Dari awal ditemukan hingga kini, Covid-19 telah menyebar di 11 provinsi dengan ratusan kasus, dan menyebabkan China melakukan penguncian ketat di tiga kota.

China sendiri telah mempertahankan kebijakan nol covid-19 yang ketat. Ini terjadi saat sejumlah negara dunia secara bertahap membuka diri untuk belajar hidup dengan virus.

Secara total China memiliki total 97.314 kasus infeksi dan 4.636 kematian, menurut data Worldometers per Rabu (3/11/2021).

3. Berlebihan

Meski demikian, CCTV mengatakan pengumuman yang meminta warga 'menimbun' makanan tersebut dibaca terlalu berlebihan. Media itu juga merilis wawancara dengan seorang pejabat Kemendag yang mengatakan pasokan harian untuk warga masih cukup dan akan dijamin sepenuhnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Kini Untung! Tapi Awas, Krisis China Bisa Bikin RI Buntung


(tfa/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading