Kini Untung! Tapi Awas, Krisis China Bisa Bikin RI Buntung

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
18 October 2021 14:10
[DALAM] Indonesia Resmi Resesi!

Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis energi telah melanda kawasan Eropa dan sejumlah negara dunia seperti Inggris India, dan China. Indonesia kebanjiran untung atas krisis energi yang dialami oleh berbagai negara ini. Namun, hati-hati ada dampak perekonomian yang membuntutinya kelak.

Salah satu peluang yang bisa didapat oleh Indonesia dari adanya krisis energi ini adalah, adanya peningkatan harga komoditas dan peningkatan permintaan komoditas utama dari Indonesia. Adanya krisis energi, harga batubara melonjak hingga dua kali lipat dari US$ 100 per ton menjadi US$ 200 per ton.


Kepala Ekonom BCA David Sumual mengungkapkan, adanya permintaan komoditas utama di Indonesia yang melimpah, menjadi salah satu alasan dirinya untuk mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi dari sekitar 3,5% sampai 3,9% menjadi 4% di tahun ini. Kendati demikian, keuntungan ini bisa saja hanya bisa dinikmati Indonesia hingga dua kuartal mendatang.

Di samping adanya krisis energi, di China juga mengalami pelemahan pada bisnis properti. Hal ini yang membuat ekonomi China hanya tumbuh 4,9% pada Kuartal III-2021.

Realisasi pertumbuhan ekonomi China pada Kuartal III-2021 tersebut yang mencapai 7,9% tersebut jauh di bawah ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang sebesar 5% seperti yang diprediksi oleh analis.

Secara sektoral, pertumbuhan produksi industri melambat menjadi 3,1% pada bulan September lalu. Di sisi lain, ritel naik menjadi 4,4%. Untuk pengangguran perkotaan di level 4,9% pada bulan lalu.

Krisis properti yang dialami oleh raksasa Evergrande, disebut masih menjadi biang keladi dari perlambatan ini. Selain itu, krisis energi yang mulai membayangi juga memperlambat output industri.

Melihat fenomena pertumbuhan ekonomi China yang melambat itu, David mengkhawatirkan akan menjadi 'bom waktu' bagi perekonomian di Indonesia.

"Dampak perlambatan ekonomi di China ke Indonesia mungkin bisa saja terjadi. Properti melemah, ada krisis energi, dan mungkin perlambatan dari konsumsi," jelas David kepada CNBC Indonesia, Senin (18/10/2021).

"Batubara satu kuartal terakhir juga bukan main meningkat harganya, CPO, mineral-mineral, dan properti track down. Mungkin tahun depan sudah mulai melambat. Kita berharap bisa dikompensasi dari konsumsi dan investasi," kata David melanjutkan.

Tertekan Sektor Properti, Ekonomi China Tumbuh 4,9% di Q3-2021Foto: CNBC Indonesia TV
Tertekan Sektor Properti, Ekonomi China Tumbuh 4,9% di Q3-2021

Aldian Taloputra, Ekonom Bank Standard Chartered Indonesia menyatakan, setiap 1% perlambatan ekonomi China maka akan mempengaruhi Indonesia sebesar 0,03%. Cukup kecil meskipun hubungan perdagangan dan investasi kedua negara sangat erat.

"Ini disebabkan oleh ekonomi Indonesia lebih didukung oleh permintaan domestik dan barang yang kita ekspor ke China mayoritas commodity energi dan metal yang saat ini permintaannya sedang tinggi dari China," ujar Aldian.


[Gambas:Video CNBC]

(mij/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading