Internasional

Solomon Rusuh karena Taiwan-China, Rumah PM Diserang

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
26 November 2021 11:16
Asap mengepul dari bangunan yang terbakar di Chinatown ibu kota Kepulauan Solomon Honiara, Kepulauan Solomon, 25 November 2021. (Tangkapan layar dari video media sosial. @Zfm Radio My Favourite Music Station via REUTERS) Foto: Asap mengepul dari bangunan yang terbakar di Chinatown ibu kota Kepulauan Solomon Honiara, Kepulauan Solomon, 25 November 2021. (Tangkapan layar dari video media sosial. @Zfm Radio My Favourite Music Station via REUTERS)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kerusuhan makin menjadi-jadi di Solomon, Jumat (26/11/2021). Massa bahkan mencoba menyerbu kediaman pribadi Perdana Menteri (PM) Manasseh Sogavare.

Ini merupakan hari ke-3 kerusuhan pecah. Polisi menembakkan gas air mata dan tembakan peringatan ke massa.




Massa yang beringas juga dilaporkan AFP membakar gedung dan menjarah toko di ibu kota Honiara. Ribuan orang dilaporkan mengacungkan kapal dan pisau, mengamuk di kota Chinatown, Point Cruz dan kawasan bisnis.

Sebuah gudang besar dibakar di China Town dan menyebabkan ledakan yang membuat banyak orang melarikan diri dari tempat kejadian dengan panik. Ada juga laporan tentang gudang tembakau yang dibakar yang menyebabkan kabut asap pariah di wilayah itu.



Sementara itu, PM Sogavare disebut meminta bantuan tentara asing untuk mengamankan negerinya. Tentara Australia dan Papua Nugini dilaporkan dikirimkan ke Solomon untuk membantu menenangkan situasi.

Sebelumnya, kerusuhan massal terjadi di Solomon, guna menuntut Sogavare mundur dari jabatannya. Akibat insiden ini, Sogavare mengambil langkah untuk melakukan penguncian nasional selama 36 jam ke depan.

Kerusuhan ini sendiri berhulu dari konflik China dan Taiwan. Pada tahun 2019 lalu, pemerintah Solomon secara resmi menghentikan pengakuannya atas Taipei dan mulai berpindah kepada Beijing.

Langkah ini ditentang keras oleh warga di wilayah Malaita, yang merupakan wilayah asal para pengunjuk rasa. Pemimpin daerah Malaita, Daniel Suidani, sebelumnya berjanji akan membuat wilayahnya tidak terlibat dengan Beijing dan menghentikan izin usaha yang dimiliki oleh etnis Tionghoa di sekitar Malaita.

Langkah ini mendapat kecaman langsung dari Honiara. Konflik antara pemerintah pusat dan pihak Malaita sendiri juga meruncing pada Mei ketika Suidani mencari perawatan medis di Taiwan dan dicap pusat sebagai kunjungan yang tidak sah.

Anggota parlemen nasional dari Malaita mengeluarkan pernyataan yang mengungkapkan ketakutan atas protes yang terjadi.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading