Internasional

'Kiamat Babi' Ancam Amerika, Lebih Parah dari Covid?

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
22 October 2021 06:26
Demonstrators protest Friday, June 5, 2020, near the White House in Washington, over the death of George Floyd, a black man who was in police custody in Minneapolis. Floyd died after being restrained by Minneapolis police officers.. (AP Photo/Carolyn Kaster)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasokan daging hewan babi yang terancam langka membuat Amerika Serikat (AS) mengalami 'kiamat daging babi'. Dapat dikatakan ini lebih parah dari Covid-19 karena menyangkut bahan makanan favorit warga.

Fenomena ini terjadi kenaikan harga daging babi diprediksi akan semakin melonjak. Itu karena rantai pasokan yang terganggu serta inflasi yang dipicu pandemi Covid-19.


Masalah ini makin diperburuk dengan terbitnya UU terkait standar khusus untuk induk babi baru yang dibuat di California, negara bagian pengkonsumsi babi terbesar. Babi-babi yang hamil harus diberi ruang yang memadai, setidaknya 24 kaki persegi dalam kandangnya.

Sebelumnya induk babi yang hamil hanya ditempatkan dalam kandang berukuran 7 kali 2 kaki. Kandang ini dapat memberi ruang untuk induk babi itu makan, berdiri, duduk, dan berbaring.

Namun babi yang hamil tidak memiliki ruang untuk berjalan, bergerak bebas, bersosialisasi, dan berbalik. Itu dianggap kejam.

"Beberapa produsen daging babi tidak akan membiarkan induk babi berbalik," kata Wakil Presiden Perlindungan Hewan Ternak untuk Masyarakat Manusiawi AS, Josh Balk, dikutip CNN International.

"Semuanya kembali ke titik itu dan terus terang, orang Amerika berpikir itu cara biadab untuk memperlakukan mereka."

Namun keberadaan UU ini membuat pasokan babi menjadi langka. Sejumlah warga bahkan menggunakan frasa 'kiamat babi' untuk menggambarkan bagaimana makanan wajib mayoritas warga AS bacon, akan hilang dari meja makan mereka.

Ini akibat tidak siapnya industri babi pada aturan ini. Kesiapan mereka tidak lebih dari 5%. Waktu penerapan aturan yang singkat juga jadi persoalan lain. Belum lagi banyak peternak berharap aturan ini mundur.

Sementara itu ekonom pertanian dari Universitas Michigan Trey Malone memprediksi aturan ini akan memukul warga AS berpenghasilan rendah. Ini, ujarnya berimplikasi pada terbatasnya akses nutrisi warga.

"Apa yang sebenarnya terjadi adalah kami pada dasarnya mencoba membatasi pilihan berbiaya lebih rendah," kata Malone. "Orang miskinlah yang kemungkinan besar akan terpengaruh oleh kebijakan ini."

Dengan aturan ini, harga daging babi bisa saja naik sekitar US$ 8 (sekitar Rp 112 ribu) untuk pembelian daging secara tahunan.

Sebelum AS, Inggris juga sempat dikabarkan mengalami krisis yang sama. Namun ini akibat kekurangan tukang jagal.

Mengutip Reuters pekan lalu, Asosiasi Babi Nasional Inggris mengatakan bahwa kombinasi Brexit dan Covid-19 telah memicu eksodus para pekerja asing dari Eropa Timur, termasuk tukang potong babi. Hal ini telah membuat penumpukan sekitar 120 ribu ekor babi di peternakan yang menunggu untuk disembelih.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading