Internasional

Amerika Jadi Korban Baru Krisis Energi Dunia, Kok Bisa?

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
15 October 2021 11:05
FILE - In this Jan. 29, 2014 file photo, taken with a fisheye lens looking south toward downtown Atlanta, the ice-covered interstate system shows the remnants of a winter snow storm, in Atlanta. The National Weather Service projects that up to an inch (2.5 centimeters) of snow is possible Tuesday in Atlanta, with up to 2 inches (5 centimeters) in far northern suburbs. Forecasters warn of the possibility of ice-glazed roads and highways. (AP Photo/David Tulis, File)

Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis energi global mulai menjalar ke Amerika Serikat (AS). Negeri adidaya itu terkena imbas defisit gas alam yang mengerek harga bahan bakar yang krusial untuk pemanas musim dingin itu.

Dalam pernyataan Administrasi Informasi Energi AS (EIA), Rabu (13/10/2021), banyak perusahaan disebut akan menaikkan harga gas hingga 30% menjadi US$ 746 (Rp 10,6 juta) untuk periode Oktober-Maret dibanding bulan yang sama di tahun 2020 lalu, yang masih berada dalam kisaran US$ 573 (Rp 8,15 juta).


"Karena kami telah bergerak melampaui apa yang kami harapkan sebagai bagian terdalam dari kemerosotan ekonomi terkait pandemi dan saat ini pertumbuhan permintaan energi umumnya melampaui pertumbuhan pasokan," kata Pejabat Administrator EIA Steve Nalley dalam rilisnya dikutip Reuters, Jumat (15/10/2021).

"Dinamika ini menaikkan harga energi di seluruh dunia."

Hal ini juga membuat banyak pengusaha utilitas di negara itu mulai mencari cara untuk menutupi defisit ini. Perusahaan gas alam terbesar AS, EQT Corp, mengatakan bahwa negeri Paman Sam harus mengeksplorasi potensi gas serpih atau shale gas yang ada di negara itu.

Shale gas sendiri merupakan gas alam yang terperangkap di formasi batu serpih. Industri meminta lebih banyak infrastruktur untuk ini.

"Solusinya sangat sederhana: lepaskan shale gas Amerika," kata CEO EQT Corp, Toby Rice, kepada Bloomberg.

"Yang kami butuhkan adalah akses ke lebih banyak infrastruktur pipa dan lebih banyak fasilitas LNG."

Selain memaksa pemerintah untuk mengeksplorasi gas serpih, beberapa penyedia layanan utilitas telah beralih ke batu bara. Diperkirakan Negeri Paman Sam akan mengalami kenaikan konsumsi bahan bakar dengan polutan tinggi itu hingga 23%.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading