Internasional

Di Depan Mata, Ancaman Seram Dunia Selain Covid Makin Nyata

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
11 October 2021 07:32
People ride a canoe by the Caddebostan shore, on the Asian side of Istanbul, Tuesday, June 8, 2021, surrounded by a huge mass of marine mucilage, a thick, slimy substance made up of compounds released by marine organisms, in Turkey's Marmara Sea. Turkey’s president has promised to rescue the Marmara Sea from an outbreak of “sea snot” that is alarming marine biologists and environmentalists. A huge mass of marine mucilage has bloomed in Turkey’s Marmara and the adjoining Black and Aegean Seas. Turkish President Recep Tayyip Erdogan said untreated waste dumped into the Marmara Sea and climate change had caused the bloom of the thick, slimy substance made up of compounds released by marine organisms, Istanbul, Turkey’s largest city, borders the sea. (AP Photo/Kemal Aslan)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ancaman perubahan iklim semakin nyata terasa. Terbaru, sebuah penelitian di Amerika Serikat (AS) menyebutkan jika tidak ada perubahan, maka 95% permukaan laut bumi menjadi tak layak huni pada 2100.

Mengutip Nature World News, hal ini diproyeksikan dari melihat biota laut. Sebagian besar kehidupan laut didukung oleh lingkungan permukaan laut yang memiliki suhu air permukaan, tingkat keasaman, dan konsentrasi mineral arogonit yang sesuai guna pembentukan tulang atau cangkang.


Namun dengan meningkatnya tingkat CO2 (karbon dioksida) di atmosfer, setidaknya dalam tiga juta tahun, ada kekhawatiran suhu permukaan laut mungkin menjadi kurang bersahabat dengan spesies yang hidup di sana.

Penulis utama dari penelitian ini Katie Lotterhos, dari Pusat Ilmu Kelautan Universitas Northeastern, mengatakan bahwa laut yang lebih panas, lebih asam, dan memiliki lebih sedikit mineral membuat laut menjadi tidak layanan huni bagi makhluk yang hidup disana.

"Dalam beberapa dekade mendatang, komunitas spesies yang ditemukan di satu wilayah akan terus bergerak dan berubah dengan cepat," ujarnya dikutip Senin (10/10/2021).

Sementara itu, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mencatat jumlah bencana, seperti banjir dan gelombang panas (heatwave), akibat perubahan iklim meningkat lima kali lipat selama 50 tahun terakhir. Tidak hanya itu, deretan bencana ini juga menewaskan lebih dari 2 juta orang dan menelan kerugian total US$ 3,64 triliun atau sekitar Rp 51.981 triliun (asumsi Rp 14.200/US$).

Dalam laporan terbarunya, organisasi di bawah naungan PBB itu mengatakan mereka melakukan tinjauan paling komprehensif tentang kematian dan kerugian ekonomi akibat cuaca, air, dan iklim ekstrem yang pernah dihasilkan. Ini mensurvei sekitar 11.000 bencana yang terjadi antara 1979-2019, termasuk bencana besar seperti kekeringan 1983 di Ethiopia, peristiwa paling fatal dengan 300.000 kematian, dan Badai Katrina di Amerika Serikat (AS) pada 2005 yang membuat kerugian US$ 163,61 miliar.

"Kerugian ekonomi meningkat seiring meningkatnya eksposur," kata Sekretaris Jenderal WMO Petteri Taalas.

Sementara bahaya bencana menjadi lebih mahal dan sering terjadi, jumlah kematian tahunan turun dari lebih dari 50.000 pada tahun 1970-an menjadi sekitar 18.000 pada tahun 2010. Ini menunjukkan bahwa perencanaan yang lebih baik telah membuahkan hasil.

"Sistem peringatan dini multi-bahaya yang ditingkatkan telah menyebabkan penurunan angka kematian yang signifikan," tambah Taalas.

Namun lebih dari 91% dari 2 juta kematian terjadi di negara berkembang. Ini mencatat bahwa hanya setengah dari 193 anggota WMO yang memiliki sistem peringatan dini multi-bahaya. Petteri Taalas juga mengatakan bahwa "kesenjangan yang parah" dalam pengamatan cuaca, terutama di Afrika, merusak keakuratan sistem peringatan dini.

WMO berharap laporan tersebut akan digunakan untuk membantu pemerintah mengembangkan kebijakan untuk melindungi masyarakat dengan lebih baik.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading