Produk RI Rentan Kena Kampanye Hitam Uni Eropa, Nih Alasannya

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
08 October 2021 20:40
European Union flags flutter outside the EU Commission headquarters in Brussels, Belgium, March 12, 2018. REUTERS/Yves Herman

Jakarta, CNBC Indonesia - Upaya memasarkan sejumlah produk Indonesia ke beberapa negara maju dan Uni Eropa mendapat tantangan. Beberapa negara akan menerapkan aturan dagang yang lebih ketat terkait importasi barang, terutama terkait dengan isu perubahan iklim. Barang-barang yang berasal dari negara berkembang harus memiliki standar ramah lingkungan.

Indonesia sebenarnya bisa memenuhi ketentuan itu. Misalnya produk kayu mendapatkan skema lisensi Forest Law Enforcement, Governance and Trade (FLEGT) bagi semua ekspor produk kayu Indonesia ke-28 negara di Uni Eropa. Lisensi FLEGT diperoleh sebagai pengakuan atas skema Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK). Namun, stigma dan kesalahan persepsi yang menyulitkan.

"Kita sudah buat dengan ketat agar SVLK menjadi standar yang menjamin legalitas dan sustainability produk-produk dari kayu yang kita ekspor ke EU," kata Wakil Ketua Umum III Kamar Dagang dan Industri Indonesia bidang Maritim, Investasi, dan Luar Negeri Shinta W. Kamdani kepada CNBC Indonesia, Jumat (8/10/2021).



Karenanya, ketika UE akan mengetatkan produk dari negara berkembang, maka perlu satu pemahaman mengenai standar yang masuk atau tidak masuk ke dalam ramah lingkungan. Jangan sampai standar ini hanya dibuat oleh satu pihak sehingga bisa mendiskriminasi bisnis dengan dalih aturan lingkungan.

"Masalah-masalah seperti ini yang kami khawatirkan akan semakin banyak, khususnya karena saat ini kita belum tahu produk-produk apa saja nanti yang akan dipersepsikan tidak ramah lingkungan. Persepsi ini pun juga akan bias pandangan dan kepentingan EU," ujar Shinta.

Karena itu, dia menilai perlu mengawal perkembangannya agar tidak merugikan ekspor dalam negeri Indonesia.

"Pada saat yang sama kami juga mendorong pemerintah untuk membantu pelaku usaha nasional dalam bertransisi ke proses bisnis yang ramah lingkungan dengan kebijakan perdagangan karbon, peningkatan investasi dan percepatan peralihan ke energi terbarukan, dan lain-lain. Sehingga ke depannya isu lingkungan tidak menjadi momok bagi daya saing ekspor kita di pasar global," kata Shinta.



[Gambas:Video CNBC]

(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading