Harga Telur Ayam Hingga Cabai Rawit Turun, September Deflasi!

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
01 October 2021 12:30
Peternak memanen telur ayam di peternakan kawasan Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat, Selasa (18/2/2020). Pemerintah resmi menaikkan harga acuan daging dan telur ayam ras untuk mengimbangi penyesuaian tingkat harga di pasar yakni harga telur ayam di tingkat peternak dinaikkan dari Rp18 ribu-Rp20 ribu per kg menjadi Rp19 ribu-Rp21 ribu per kg sedangkan daging ayam ras dinaikkan dari Rp18 ribu-Rp19 ribu per kg menjadi Rp19 ribu-Rp20 ribu per kg. Lukman 45 tahun Peternak  mengatakan kenaikan harga tersebut sebagai hal yang positif. Sebab, bila tidak hal itu tentu dirasakan merugikan. Pasalnya, saat ini nilai tukar dolar terhadap rupiah tengah menguat dan mempengaruhi berbagai hal, termasuk biaya transportasi.
 (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan terjadi deflasi atau minus 0,04% pada September 2021 dibandingkan bulan sebelumnya (month to month/mtm)m dengan harga Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 106,53.

Kepala BPS Margo Yuwono menjelaskan deflasi pada September ditunjukan oleh turunnya beberapa indeks kelompok pengeluaran yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar -0,47% dan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar -0,01%


"Makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil deflasi sebesar 0,12%. Dimana komoditas penyebab utamanya yaitu telur ayam ras sebesar -0,07%, cabai rawit 0,03%, dan bawang merah dengan andil sebesar -0,03%," jelas Margo konferensi pers, Jumat (1/10/2021).

"Sementara itu komoditas yang menghambat deflasi atau inflasi yakni naiknya harga minyak goreng dengan andil 0,02%," kata Margo melanjutkan.

Deflasi yang terjadi pada September 2021 menurut komponennya, kata Margo didorong oleh harga komponen bergejolak -0,15%, komoditasnya yakni telur ayam ras, cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah.

Sementara pada komponen inti merupakan pendorong inflasi dengan andil sebesar 0,09%, dengan komoditas pendorong inflasinya yakni sewa rumah 0,01%.

Kemudian harga yang diatur pemerintah juga tercatat mengalami inflasi dengan andil 0,02%. "Pendorong inflasi pada sektor ini yakni bensin, rokok putih, rokok kretek filter, dengan andil masing-masing 0,01%," jelas Margo.

Dari 90 kota IHK, 56 kota mengalami deflasi dan 34 kota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Gorontalo sebesar 0,9% dengan IHK sebesar 105,94 dan terendah terjadi di Palu sebesar 0,01% dengan IHK sebesar 108,33.

"Penyebab deflasi di Gorontalo penyumbang utama berasal dari cabai rawit -0,47%, ikan tuna -0,13% dan ikan layang -0,11%," tutur Margo.

Sementara inflasi tertinggi terjadi di Pangkal Pinang sebesar 0,6% dengan IHK sebesar 104,98 dan terendah terjadi di Surakarta sebesar 0,01% dengan IHK sebesar 105,96.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

BPS: RI di Bulan Juni 2021 Alami Deflasi 0,16% (mtm)


(mij/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading