Nah Lho Proyek Jalur Sutra China Banyak Mandek, Ini Buktinya

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
29 September 2021 19:53
China's Chen Meng, left, and Sun Yingsha hold their national flag after winning the table tennis women's singles gold medal match at the 2020 Summer Olympics, Thursday, July 29, 2021, in Tokyo. (AP Photo/Kin Cheung)

Jakarta, CNBC Indonesia - Belt Road Initiative (BRI), proyek strategi pembangunan global milik China alias "Jalur Sutra Abad 21", akan kehilangan momentum karena pihak oposisi dan utang pada deretan negara yang ditargetkan meningkat.

Menurut sebuah studi oleh AidData, laboratorium penelitian di College of William and Mary di Amerika Serikat (AS), turunnya proyek China ini membuka jalan untuk skema saingannya dari China untuk melenggang masuk.

"Semakin banyak pembuat kebijakan di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah menghentikan proyek-proyek BRI profil tinggi karena masalah harga yang terlalu tinggi, korupsi, dan keberlanjutan utang," kata Dr Brad Parks, salah satu penulis studi tersebut, Rabu (29/9/2021).


AidData mengatakan proyek BRI senilai US$ 11,58 miliar di Malaysia telah dibatalkan selama 2013-2021. Sementara hampir US$ 1,5 miliar dibatalkan di Kazakhstan dan lebih dari US$ 1 miliar di Bolivia.

Studi AidData juga mengamati 13.427 proyek yang didukung China di 165 negara selama 18 tahun, senilai total US$ 843 miliar. Mereka mencatat bahwa komitmen keuangan pembangunan internasional tahunan Negeri Tirai Bambu kini dua kali lipat dari AS.

Parks menambahkan perubahan besar dalam sentimen publik juga mempersulit negara-negara peserta untuk mempertahankan hubungan dekat dengan China.

Studi tersebut mengatakan semakin banyak proyek yang didukung China telah ditangguhkan atau dibatalkan sejak peluncuran BRI 2013. Banyak bukti penyesalan dari negara seperti Kazakhstan, Kosta Rika dan Kamerun.

Risiko kredit juga meningkat, dengan eksposur utang China sekarang melebihi 10% dari PDB di banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah. Survei tersebut menemukan bahwa 35% proyek BRI berjuang melawan korupsi, pelanggaran perburuhan, pencemaran lingkungan, dan protes publik.

Namun He Lingxiao, juru bicara Bank Investasi Infrastruktur Asia yang dipimpin China, yang terkait erat dengan BRI, mengatakan percaya prinsip-prinsip menyeluruh BRI masih masuk akal.

"Bagaimana prinsip-prinsip ini akan diterjemahkan ke dalam realitas operasional adalah di mana kami mengadvokasi standar internasional yang tinggi," katanya, dikutip dari The Straits Times.

BRI pertama kali diluncurkan oleh Presiden Xi Jinping tahun 2013. Proyek ini menggunakan kekuatan China dalam pembiayaan dan pembangunan infrastruktur guna membangun komunitas di seluruh Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

Namun kini BRI mendapat saingan. AS mengumumkan inisiatif saingan Kelompok Tujuh yang dikenal sebagai Build Back Better World (B3W) pada Juni 2021 untuk memberikan dukungan keuangan bagi negara-negara berkembang untuk membangun infrastruktur.

"B3W akan meningkatkan pilihan di pasar pembiayaan infrastruktur, yang dapat menyebabkan beberapa pembelotan BRI profil tinggi," kata Parks.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading