Kaget! AS Punya Utang Rp 404.000 T, Buat Apa Saja?

News - a, CNBC Indonesia
25 September 2021 13:20
Janet Yallen

Jakarta, CNBC Indonesia - Utang Amerika Serikat (AS) saat ini mencapai US$28,4 triliun atau sekitar Rp 404.000 triliun (kurs Rp 14.250/US$). Besarnya utang yang dimiliki AS ini membuat negara adidaya ini kembali menghadapi masalah klasik berupa batas utang.

Menteri Keuangan AS, Janet Yellen, meminta Kongres AS untuk menaikkan batas utang. Dia mengatakan jika batas tersebut tidak dinaikkan maka pemerintahan AS akan mengalami shutdown atau penutupan sementara akibat kehabisan anggaran.

Tidak hanya shutdown, AS juga disebut terancam mengalami gagal bayar (default) hingga krisis finansial. Menurutnya AS tidak pernah mengalami default sekalipun.


"Jika batas utang tidak dinaikkan, suatu saat di bulan Oktober, sulit untuk memprediksi kapan waktu tepatnya, saldo kas di Departemen Keuangan tidak akan mencukupi, dan pemerintah federal tidak akan mampu membayar tagihannya," ungkap Yellen dilansir dari CNBC Internasional, Sabtu (25/9/2021).

Lebih lanjut dia mengatakan, jika sampai terjadi default maka akan memicu krisis finansial yang bersejarah. "Default bisa memicu kenaikan suku tajam suku bunga, penurunan tajam bursa saham, dan gejolak finansial lainnya," tegas Yellen.

Berdasarkan data dari Statista, per Agustus lalu, nilai utang Amerika Serikat sebesar US$ 28,427 triliun, nyaris sama dengan bulan sebelumnya, tetapi turun cukup jauh dari bulan Juni US$ 28,529 triliun.

Dari total utang ini, lebih dari US$ 7 triliun Amerika Serikat berhutang kepada asing, salah satu yang terbesar yakni China, yang kerap dilawan berseteru.

Berdasarkan data dari Departemen Keuangan AS, China memiliki surat utang atau obligasi (treasury) senilai US$ 1,07 triliun pada akhir Juli lalu. China menjadi negara kreditur terbesar kedua Amerika.

Di urutan pertama ada Jepang yang memiliki Treasury AS senilai US$ 1,3 triliun. Jepang menjadi pemegang Treasury AS terbesar sejak pertengahan 2019 lalu mengalahkan China.

Pasca perang dagang antara Amerika Serikat dan China berkobar, pemerintah Tiongkok cenderung melepas kepemilikan treasury, sementara Jepang terus bertambah. Kemudian melengkapi lima besar kreditur AS ada Inggris, Irlandia, dan Swiss.

Partai Republik menolak memberikan dukungan kenaikan batas utang tersebut meski AS terancam mengalami shutdown hingga risiko default.

Senator partai Republik dari Lousiana, Bill Casssidy mengatakan Partai Demokrat ingin menaikkan batas utang tersebut untuk membiayai rencana proyek triliunan dolar AS yang disebut "Democrat wish list".

Shutdown juga pernah terjadi berkali-kali. Sebelum isu kenaikan plafon utang terjadi di era Presiden AS ke-45, Donald Trump. Saat itu pemerintahan Amerika Serikat mengalami shutdown selama 35 hari pada periode Desember 2018 hingga Januari 2019.

Akibat shutdown ini sebanyak 300 ribu pegawai pemerintah dirumahkan. Ini menjadi shutdown terpanjang dalam sejarah Amerika Serikat.

Tidak hanya itu, Produk Domestik Bruto (PDB) juga terpangkas. Di kuartal IV-2018, PDB terpangkas sebesar 0,1%, sementara di kuartal I-2019 sebesar 0,2%, berdasarkan analisis Congressional Budget Office, sebagaimana dikutip CNBC International.

Salah satu pos yang menguras kas negara AS adalah sektor pertahanan. Tahun lalu, AS keluar duit US$ 724,64 miliar (Rp 10.321,77 triliun) untuk kebutuhan pertahanan.

Dalam lima tahun terakhir, anggaran pertahanan AS rata-rata naik 4,25% per tahun. Lebih tinggi dibandingkan rerata lima tahun sebelumnya yang turun 3,16% setiap tahunnya.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading