Internasional

Wow! Demi Cinta, Presiden Duterte Lamar Jadi Wapres Filipina

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
09 September 2021 08:41
CORRECTS CITY TO DAVAO INSTEAD OF MANILA - In this photo provided by the Malacanang Presidential Photographers Division, Philippine President Rodrigo Duterte gestures as he meets members of the Inter-Agency Task Force on the Emerging Infectious Diseases in Davao, Philippines, Monday, June 21, 2021. The Philippine president has threatened to order the arrest of Filipinos who refuse COVID-19 vaccination and told them to leave the country for hard-hit countries like India and the United States if they would not cooperate with massive efforts to end the pandemic. (Simeon Celi/Malacanang Presidential Photographers Division via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Filipina Rodrigo Duterte bakal mencalonkan diri sebagai wakil presiden pada pemilihan berikutnya. Langkah ini ia ambil dengan mengklaim sebagai rasa cinta pada negaranya.

Dilansir dari BBC International, Kamis (9/9/2021), Duterte juga menyatakan secara terbuka bahwa sebagai wakil presiden, dia akan kebal dari penuntutan oleh Pengadilan Kriminal Internasional. Sebelumnya ia dituntut setelah memerintahkan 'perang melawan narkoba' yang telah menewaskan ribuan orang.


Ada spekulasi juga, yang mengatakan bahwa sang presiden akan mencari pasangan yang lemah secara politik. Nantinya, Duterte akan menggantikan perannya sebagai presiden.

Sebelumnya ia mendesak senator dan sekutu dekatnya Christopher "Bong" Go untuk menggantikannya. Namun Go menolak pencalonan presiden dari partai tersebut dan mengatakan bahwa "hati dan pikirannya terfokus pada melayani orang".

Sementara partainya mengatakan ingin Go mempertimbangkan kembali keputusannya. Penolakannya terhadap pencalonan telah mengarah pada saran bahwa putri Duterte, Sara Duterte Carpio, dapat bergabung dengannya.

Sebelumnya Konstitusi melarang presiden dari masa jabatan kedua. Saingan Duterte menuduhnya berusaha untuk mempertahankan kekuasaan.

Duterte memenangkan kursi kepresidenan pada tahun 2016 dengan memperbaiki krisis narkoba di negara itu. Namun kritikus mengatakan bahwa dia telah mendorong polisi untuk terlibat dalam pembunuhan di luar hukum terhadap banyak orang.

Pada Juni, jaksa Pengadilan Kriminal Internasional mengajukan permohonan untuk membuka penyelidikan penuh atas pembunuhan perang narkoba di Filipina, dengan mengatakan kejahatan terhadap kemanusiaan bisa saja dilakukan olehnya.

Sebuah laporan Amnesty International menemukan bahwa lebih dari 7.000 orang dibunuh oleh polisi atau penyerang bersenjata tak dikenal dalam enam bulan pertama kepresidenan Duterte.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading