Sekolah Tatap Muka Digelar, Waspada Klaster Baru Covid-19!

News - Yuni Astutik, CNBC Indonesia
30 August 2021 16:55
Suasana belajar mengajar pembelajaran tatap muka di sekolah SDN 14 Pagi Pondok labu, Jakarta, Senin (30/8). Sekolah tatap muka resmi dilaksanakan kembali untuk 610 sekolah di DKI Jakarta. Daftar sekolah mencakup jenjang TK/PAUD-SMA dan lembaga pendidikan setingkat lain, termasuk informal. Tentunya PTM terbatas tahap I dilakukan dengan penerapan protokol kesehatan ketat. Staff guru pengajar Sekolah SDN 14 pagi pondok labu mengatakan,

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemberlakuan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dinilai bisa menimbulkan klaster baru covid-19, apalagi jika tanpa persiapan yang matang.

"Selama ini sudah terjadi artinya suatu perkantoran, pusat belanja, termasuk sekolah yang mencuri kesempatan membuka, sesungguhnya berpotensi. Ada beberapa yang terjadi klaster signifikan," ujar Dewan Pakar Ikatan Kesehatan Masyarakat Indonesia, Hermawan Saputra kepada CNBC Indonesia di Jakarta, Senin (30/8/2021).

Menurutnya, riskan jika masih mengulang hal yang sama yaitu saat kasus penyebaran masih tinggi, apalagi beberapa wilayah di Indonesia positivity rate 10% bahkan lebih. Oleh karena itu pemerintah dan Pemda harus berhati-hati dan memilih dengan baik mana daerah yang memungkinkan dilakukan PTM sehingga tidak menjadi euforia semata.


"PTM yang pada akhirnya menjadi boomerang. Untuk itu kebertahapan penting," tegasnya.

Apalagi, sebanyak 514 kabupaten kota di Indonesia memiliki mitigasi risiko yang berbeda. Untuk persoalan mendasar seperti 3 T saja, banyak daerah yang masih lemah penerapannya.

"Di sinilah kita inginkan, sekolah mempersiapkan preparing proses betul-betul membentuk satgas covid-19 di sekolah," ujarnya.

Sementara itu, pemerhati dunia pendidikan Dony Koesuma mengatakan setidaknya ada 5 tantangan yang dihadapi terkait PTM ini. Pertama saat masuk seharusnya dilakukan penilaian awal, sampai di mana murid-murid tersebut belajarnya.

"Karena situasi di rumah dan di sekolah berbeda. Bisa saja saat di rumah karena orang tua yang mengerjakan, tidak jujur," katanya.

Kedua, guru perlu membuat tantangan untuk personalisasi siswa. Ketiga materi harus benar-benar dipilih skala prioritasnya. Keempat bagaimana menjembatani antara pembelajaran daring dan luring. Terakhir bagaimana terkait personalisasi anak-anak.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Mau Sekolah Tatap Muka, Tolong Siapkan Ini Lebih Dulu


(yun/yun)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading