Harga Termurah Masih 3 Kali Avanza, Mobil Listrik Berat di RI

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
10 August 2021 17:20
Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) resmi menggunakan mobil listrik sebagai kendaraan dinas untuk pertama kalinya. Hari ini, Selasa (29/12) PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) secara resmi menyerahkan tiga unit mobil listrik kepada Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil atau yang akrab disapa Kang Emil. Ketiga mobil tersebut adalah 2 unit IONIQ Electric dan 1 unit KONA Electric. (Dok: Istimewa)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perkembangan mobil listrik di Indonesia menghadapi tantangan besar dari segi harga. Banderol mobil listrik termurah saat ini berada di kisaran Rp 600 juta, jauh lebih tinggi dari mobil-mobil terlaris di Indonesia saat ini dalam rentang harga Rp 200-300 juta, atau 3 kali dari harga low MPV seperti Avanza.

Namun, Indonesia bukannya tanpa pengalaman dalam membangkitkan jenis mobil tertentu. Pada 2013 lalu, pemerintah mengeluarkan program Low Cost Green Car (LCGC) dengan harapan memantik perkembangan industri. Hasilnya terlihat nyata hingga kini, dimana LCGC laris bak kacang goreng. Cara seperti itu bisa juga dilakukan kepada mobil listrik.

"Bisa seperti itu karena kuncinya di harga. Kalau angkanya masuk di kantong masyarakat harapannya bisa berkembang pesat," kata kata Sekretaris Umum (Sekum) Gaikindo Kukuh Kumara kepada CNBC Indonesia, Selasa (10/8/21).


Keberadaan mobil listrik juga mendapat respons positif dari berbagai kalangan, terutama pemerintah. Banyak instansi pemerintahan yang kini menggunakan mobil listrik sebagai kendaraan operasional. Namun, belum tentu masyarakatnya juga bakal menerima dengan respons yang sama.

"Saya khawatir kalau nggak hati-hati, jadi jangan terjebak euforia mobil listrik tapi dilihat berapa harganya, masuk daya belinya nggak," kata Kukuh.

Kebijakan pemerintah jadi kunci agar mobil listrik bisa berkembang di Indonesia. Hal ini sudah terbukti di beberapa negara, seperti Jepang dan Korea Selatan dimana pemerintahnya jor-joran memberi subsidi untuk setiap unit mobilnya, misalnya Jepang yang memberikan subsidi mulai dari 200.000 yen hingga 450.000 yen.

"Saya bicara dengan beberapa kawan di Korea dan Jepang bahwa subsidinya besar dan datang dari pemerintah daerah dan Pusat. Begitu juga di China, ketika mobil listrik disubsidi penjualan naik, tapi ketika subsidi dihapus tahun 2019, penjualan menurun. Jadi kuncinya di harga," sebut Kukuh.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading