PPKM Effect Ngeri! Jet Pribadi Laris, Maskapai Sepi Penumpang

News - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
22 July 2021 16:40
Private jets are parked at the Friedman Memorial Airport during the annual Allen and Co. Sun Valley media conference in Sun Valley, Idaho, U.S., July 9, 2019. REUTERS/Brendan McDermid

Jet pribadi diparkir di Bandara Friedman Memorial selama konferensi media tahunan Allen and Co. Sun Valley di Sun Valley, Idaho, AS, (9/7/2019). (REUTERS / Brendan McDermid) Foto: Jet pribadi diparkir di Bandara Friedman Memorial selama konferensi media tahunan Allen and Co. Sun Valley di Sun Valley, Idaho, AS, (9/7/2019). (REUTERS / Brendan McDermid)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi ini mengubah banyak hal kehidupan termasuk kegiatan bisnis. Saat sebelum pandemi, layanan jasa maskapai penerbangan laris manis, kini justru yang terjadi banyak pesawat-pesawat carter atau jet pribadi banyak yang dicari orang-orang karena alasan keamanan, terutama bagi mereka kaum berduit.

Di sisi lain, maskapai komersil berjadwal harus mengalami tekanan berat di tengah pembatasan sosial berupa PPKM darurat atau yang kini disebut PPKM Level 3-4. Laporan di lapangan, maskapai harus berkali-kali membatalkan penerbangan karena penumpang yang sangat sedikit sehingga tak ekonomis buat penerbangan.

Penumpang Cuma 2-3 Orang, Penerbangan Batal


Banyak maskapai yang beroperasi di Bandara Husein Sastranegara Bandung membatalkan jadwal keberangkatan sejak 19 Juli 2021 lalu. Sampai saat ini juga belum diketahui kondisi ini berlangsung sampai kapan, sejalan berlangsungnya PPKM Level 4 sampai 25 Juli nanti.

Executive General Manager (EGM) Bandara Husein Sastranegara R Iwan Winaya Mahdar membenarkan hal ini. Dimana semua maskapai membatalkan penerbangannya.

"Cancel flight ini dimulai dari tanggal 19 Juli 2021 kemarin. Tanggal 20 Juli itu ada 2 aircraft movement yang takeoff Bandung - Medan, dengan penumpang 17 orang yang sudah memenuhi syarat penerbangan, tanggal 21 (hari ini) cancel flight lagi, tanggal 22 Juli cancel flight lagi, tanggal 23 kita nanti keputusan jam 7 malam," jelasnya, kepada CNBC Indonesia, Kamis (22/7).

Iwan juga belum mengetahui alasan di balik maskapai ini banyak yang melakukan pembatalan penerbangan. Namun dari asumsinya kemungkinan karena sedikitnya jumlah penumpang yang membeli tiket penerbangan saat ini.

"Maskapai yang tahu alasannya. Mungkin commercial reason, mungkin tidak ada penumpang, apakah tidak ada yang membeli tiket atau hanya 2-3 orang yang beli saya kurang tahu, maka mereka melakukan cancel flight dari tanggal 19 Juli menarin," jelasnya.

Saat yang Sama Jet Pribadi Diburu Orang Kaya

Perusahaan jasa penyewaan jet pribadi atau carter pesawat jet mengakui selama pandemi, khususnya saat ada lonjakan kasus Covid-19, permintaan sewa jet makin tinggi. Umumnya orang-orang berduit untuk keperluan medis seperti evakuasi penumpang terdampak Covid -19, ataupun keperluan keluarga. Selain itu, juga permintaan ekspatriat ke luar negeri juga tinggi.

Direktur PT Indojet Sarana Aviasi, Stefanus Gandi, menjelaskan terjadi peningkatan permintaan dari pelanggan yang mencapai dua kali lipat dibandingkan sebelum pandemi.

"Dari persentase selama pandemi grafisnya lumayan, awal-awal sebelum pandemi naik 30-50%, makin ke sini meningkat hingga dua kali lipat. Karena banyak orang makin tahu tentang layanan jet mudah diakses," kepada CNBC Indonesia, Kamis (22/7).

Dia menjelaskan makin orang mengetahui layanan jet pribadi ini mudah diakses walaupun harganya cukup mahal. Seperti untuk layanan pesawat termurah untuk pesawat kecil dibanderol mencapai US$ 1.400 ++ atau setara Rp 27,5 juta (kurs Rp 14.500/US$), sementara layanan termahal mencapai US$ 37.000 ++ atau setara Rp 536,5 juta (kurs Rp 14.500/US$).

"Tren sekelompok masyarakat pelan-pelan mengalihkan perjalanan dari business class ke private jet, dengan alasan dari segi keamanan karena kalau di business class masih harus berinteraksi banyak orang orang banyak," jelasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading