Ada Energi Terbarukan, Migas Tetap Takkan Terganti, Kok Bisa?

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
08 July 2021 18:45
Kilang minyak

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah terus mendorong pemakaian energi baru terbarukan (EBT) demi mencapai bauran energi terbarukan sebesar 23% pada 2025 dan juga mencapai netral karbon pada 2060 mendatang. Hal ini tak lain sebagai upaya pengurangan emisi karbon untuk mengurangi dampak perubahan iklim.

Selain mengembangkan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan, transisi energi lainnya yang tengah digencarkan yaitu penggunaan kendaraan listrik. Dengan menggunakan kendaraan listrik, maka nantinya diproyeksikan bakal menekan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang selama ini lebih banyak dipenuhi dari impor.

Meski transisi energi terus digadang-gadang oleh pemerintah, namun akademisi sektor perminyakan Rudi Rubiandini berpandangan bahwa minyak dan gas (migas) tak akan pernah terganti. Dia berpandangan bahwa adanya energi terbarukan merupakan upaya untuk saling melengkapi, bukannya mengganti.


"Katanya semua akan diganti dengan EBT, ketika saya tanya bagaimana bisa? Oh ya nanti mobil listrik. Listrik dari mana? dari aki, butuh listrik dari fuel juga, macam memindahkan saja," ucapnya dalam diskusi di SKK Migas, Kamis (08/07/2021).

Dia menekankan bahwa migas masih akan menjadi energi yang utama. Apalagi, lanjutnya, pengembangan energi alternatif sebagai substitusi masih berjalan kurang lancar, seperti pengembangan panas bumi, energi air, bio energi, surya, hingga angin.

"Transisi energi adalah mensubstitusi dengan adanya panas bumi, air, batu bara, surya, angin, biofuel ikut-ikut, rame-rame jangan terlalu berat, minyak dan gas yang nanggung," ujarnya.

Dia pun optimistis bahwa minyak tidak akan habis dalam kurun waktu 10,20,30 bahkan sampai 100 tahun ke depan. Menurutnya, pengeboran hidrokarbon di Indonesia saat ini baru 15 km atau baru 15.000 m yang terdalam. Padahal, lapisan tanah yang mengandung minyak bisa sampai 100 km. Artinya, pemenuhan energi dari minyak masih akan panjang.

Hanya saja, imbuhnya, kendalanya saat ini adalah teknologi yang belum dimiliki untuk mencapai itu.

"Jadi masih panjang, cuma teknologi kita untuk menyentuh itu belum ada, jadi please deh energi migas yang utama," ungkapnya.

Selain itu, lanjutnya, jangan lupa bahwa Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah bernama impor minyak di mana ketika harga minyak naik, ini menjadi beban bagi APBN.

"Kita adalah oil net importer, karena konsumsi lebih besar dari produksi. Dulu organisasi eksportir, sekarang importir, suka gak suka ini terbukti jangan ditutup-tutupi," tandasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading