Batu Bara Ngamuk, HBA Juli Rekor Tertinggi Dalam 1 Dekade

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
05 July 2021 19:07
Pekerja melakukan bongkar muat batu bara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun salah satunya Peraturan Pemerintah yang diterbitkan yaitu Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan Harga Batu Bara Acuan (HBA) Juli 2021 sebesar US$ 115,35 per ton, naik hampir 15% dari HBA Juni 2021 US$ 100,33 per ton.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, HBA di bulan Juli 2021 ini menjadi yang tertinggi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, tepatnya November 2011 yang mencapai US$ 116,65 per ton. Pada 2011 bahkan harga batu bara mencapai level tertinggi hingga US$ 127 per ton pada Februari 2011. Namun setelah itu anjlok ke US$ 112,02 per ton pada April 2011.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi mengungkapkan, konsumsi batu bara China terus mengalami lonjakan.


"Kapasitas pasokan batu bara domestik Tiongkok terus menipis seiring kembalinya geliat aktivitas pembangkit listrik," jelas Agung, dalam keterangan resmi Kementerian, Senin (5/7/2021).

Dia mengatakan, China sendiri cukup kewalahan memenuhi kebutuhan batubara dalam negeri akibat terjadinya kendala operasional seperti adanya kecelakaan tambang dan perubahan cuaca berupa hujan yang ekstrem.

Selain China, imbuhnya, Jepang dan Korea Selatan juga menunjukkan grafis kenaikan serupa.

"Ini berimbas pada kenaikan harga batu bara global," imbuhnya.

Secara rinci, berikut data HBA tertinggi sejak 2012, berdasarkan data Kementerian ESDM:
- Maret 2012 US$ 112,87 per ton.
- Maret 2013 US$ 90,09 ton.
- Januari 2014 US$ 81,90 per ton.
- Maret 2015 US$ 67,76 per ton.
- Desember 2016 US$ 101,69 per ton.
- November 2017 US$ US$ 94,80 per ton.
- Agustus 2018 US$ 107,83 per ton.
- Januari 2019 US$ 92,41 per ton.
- Maret 2020 US$ 67,08 per ton.

Pada tahun 2020 pandemi Covid-19 menyerang semua negara, sehingga turut membuat HBA anjlok di mana posisi tertingginya hanya di US$ 67,08 per ton pada Maret 2020. Sementara itu, pada 2021 bulan Juli ini HBA pecah rekor mencapai US$ 115,35 per ton.

HBA Juli 2021 tertuang di dalam Keputusan Menteri ESDM No. 121.K/ HK.02/ MEM.B/ 2021 tentang Harga Mineral Logam Acuan dan Harga Batu Bara Acuan untuk Bulan Juli Tahun 2021. Keputusan Menteri ini ditetapkan Arifin Tarif pada 2 Juli 2021.

Seperti diketahui, harga batu bara di pasar terus meroket. Akhir pekan lalu, harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) tercatat US$ 134 per ton, naik 1,94% dibandingkan hari sebelumnya. Dalam sepekan, harga batu bara naik 5,45%. Selama sebulan terakhir, harga meroket 22,78%.

Terdapat dua faktor turunan yang memengaruhi pergerakan HBA yaitu suplai dan permintaan (demand). Pada faktor turunan suplai dipengaruhi oleh season (cuaca), teknis tambang, kebijakan negara pemasok, hingga teknis di supply chain seperti kereta, tongkang, maupun loading terminal.

Sementara untuk faktor turunan permintaan dipengaruhi oleh kebutuhan listrik yang turun berkorelasi dengan kondisi industri, kebijakan impor, dan kompetisi dengan komoditas energi lain, seperti LNG, nuklir, dan hidro.

Nantinya, HBA bulan Juli ini akan dipergunakan pada penentuan harga batu bara pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Vessel).

Berdasarkan riset CNBC Indonesia, tercatat pada pekan lalu harga si batu legam naik 0,76% ke US$ 134 per ton level ini menjadi harga tertinggi batu bara dalam kurun 10 tahun terakhir dan mendekati level tertingginya selama 20 tahun terakhir di angka US$ 137,6 per ton buntut dari kembali naiknya permintaan akan si batu legam.

"Terjadi peningkatan permintaan global karena berbagai negara sudah pulih dari dampak pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/ Covid-19). Kemungkinan akan ada pertumbuhan ekonomi seperti sebelum pandemi pada tahun-tahun ke depan," sebut Toby Hassall, Analis Refnitiv, dalam riset hariannya.

Bulan lalu, Refinitiv mencatat impor batu bara China mencapai 25,34 juta ton. Ini adalah yang tertinggi sejak Juni 2020.

"Dalam beberapa bulan terakhir, pertumbuhan konsumsi yang tinggi di China melampaui pasokan batu bara domestik. Ini menyebabkan harga naik pesat," lanjut Hassall.

China adalah negara negara dengan konsumsi batu bara terbesar dunia. US Energy of Information Administration mencatat konsumsi batu bara China mencapai 4.319.921.826.000 MMcf. Ini mencapai 50,5% dari total konsumsi batu bara dunia.

Jadi saat permintaan di China naik, pasti harga akan ikut bergerak naik. Maklum, China adalah konsumen terbesar sehingga bisa mempengaruhi harga.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading