Batu Bara Kian Sakti, HBA Juli Meroket ke US$ 115,35 per Ton

News - Wilda Asmarini, CNBC Indonesia
05 July 2021 14:32
Pekerja melakukan bongkar muat batu bara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun salah satunya Peraturan Pemerintah yang diterbitkan yaitu Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan Harga Batu Bara Acuan (HBA) Juli 2021 sebesar US$ 115,35 per ton, meroket dari US$ 100,33 per ton pada Juni 2021.

Hal ini tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM No.121.K/HK.02/MEM.B/2021 tentang Harga Mineral Logam Acuan dan Harga Batu Bara Acuan untuk Bulan Juli Tahun 2021. Keputusan Menteri ini ditetapkan Arifin Tarif pada 2 Juli 2021.

Dengan HBA Juli sebesar US$ 115,35 per ton ini menandakan ini menembus rekor tertinggi baru, setelah sebelumnya pada Juni lalu juga menembus US$ 100,33 per ton, tertinggi sejak November 2018 yang mencapai US$ 97,90 per ton.


HBA adalah harga yang diperoleh dari rata-rata indeks Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan
Platt's 5900 pada bulan sebelumnya, dengan kualitas yang disetarakan pada kalori 6322 kcal/kg GAR, Total Moisture 8%, Total Sulphur 0,8%, dan Ash 15%.

Seperti diketahui, harga batu bara di pasar terus meroket. Akhir pekan lalu, harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) tercatat US$ 134 per ton, naik 1,94% dibandingkan hari sebelumnya. Dalam sepekan, harga batu bara naik 5,45%. Selama sebulan terakhir, harga meroket 22,78%.

Berdasarkan riset CNBC Indonesia, tercatat pada pekan lalu harga si batu legam naik 0,76% ke US$ 134 per ton level ini menjadi harga tertinggi batu bara dalam kurun 10 tahun terakhir dan mendekati level tertingginya selama 20 tahun terakhir di angka US$ 137,6 per ton buntut dari kembali naiknya permintaan akan si batu legam.

"Terjadi peningkatan permintaan global karena berbagai negara sudah pulih dari dampak pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/ Covid-19). Kemungkinan akan ada pertumbuhan ekonomi seperti sebelum pandemi pada tahun-tahun ke depan," sebut Toby Hassall, Analis Refnitiv, dalam riset hariannya.

Bulan lalu, Refinitiv mencatat impor batu bara China mencapai 25,34 juta ton. Ini adalah yang tertinggi sejak Juni 2020.

"Dalam beberapa bulan terakhir, pertumbuhan konsumsi yang tinggi di China melampaui pasokan batu bara domestik. Ini menyebabkan harga naik pesat," lanjut Hassall.

China adalah negara negara dengan konsumsi batu bara terbesar dunia. US Energy of Information Administration mencatat konsumsi batu bara China mencapai 4.319.921.826.000 MMcf. Ini mencapai 50,5% dari total konsumsi batu bara dunia.

Jadi saat permintaan di China naik, pasti harga akan ikut bergerak naik. Maklum, China adalah konsumen terbesar sehingga bisa mempengaruhi harga.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading