Waspada! Ini Fakta-fakta WHO soal Varian Baru Covid-19 Lambda

News - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
26 June 2021 15:10
A relative of a person who died of COVID-19 is consoled by another during cremation in Jammu, India, Sunday, April 25, 2021. Delhi has been cremating so many bodies of coronavirus victims that authorities are getting requests to start cutting down trees in city parks, as a second record surge has brought India's tattered healthcare system to its knees. (AP Photo/Channi Anand)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menyusul keberadaan sejumlah varian Covid-19 di global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru saja mengumumkan varian baru bernama Lambda. Varian itu masuk dalam daftar Variant of Interest atau VOI.

"Pada 14 Juni 2021, varian yang ditetapkan untuk garis keturunan Pango C.37, clade GR/452Q.V1, NexStrain clade 20D, ditetapkan sebagai VOI global dan diberi label WHO Lambda," tulis buletin WHO, dikutip India Today, Sabtu (26/6/2021).

Varian Lambda menambah panjang daftar varian Covid-19 yang beredar di dunia saat ini. Misalnya saja varian Delta yang menyebabkan 'tsunami' Covid-19 di India dan juga masuk dalam klasifikasi VOI WHO pada Mei lalu.


Klasifikasi itu diberikan karena varian terbukti lebih menular, mematikan, atau lebih resite pada vaksin serta perawatan yang dilakukan saat ini. Varian Delta juga telah ditemukan di 92 negara dunia.

Untuk mengenal lebih jauh, berikut sejumlah fakta mengenai varian baru Lamdba:

1. Masuk Varian VOI
WHO menyebutkan Lambda telah lama dipantau sebagai varian yang perlu mendapat peringatan. Berdasarkan informasi lebih lanjut dan penilaian yang diperbarui, varian ini sekarang telah dianggap sebagai 'memenuhi definisi kerja VOI berdasarkan bukti kemunculan yang berkelanjutan dan dugaan implikasi fenotipik'.

2. Terdeteksi Pertama Kali di Peru
WHO menyebutkan jika Lambda terdeteksi awalnya di Peru pada Agustus 2020. Laporan WHO menyebutkan di negara itu hingga April 2021, 81% kasus merupakan varian Lambda.

3. Meluas ke 29 Negara
Sejak ditemukan di Peru, varian itu dilaporkan telah ditemukan di 29 negara, yakni sebagian besar Amerika Latin termasuk Argentina dan Chili.

Di Chili 32% dalam 60 hari di Chili juga berasal dari varian yang sama. Varian itu beredar bersama pada tingkat yang sama dengan varian Gamma (33%), namun mengalahkan varian Alpha (4%) pada periode yang sama.

Argentina melaporkan prevalensi Lambda sejak minggu ketiga Februari 2021. Sejak 2 April hingga 19 Mei, Lambda menyumbang 37% dari kasus yang ada.

3. Bawa Sejumlah Mutasi

WHO menyebutkan Lambda membawa sejumlah mutasi, yakni dengan dugaan implikasi fenotipik, seperti potensi peningkatan penularan atau kemungkinan peningkatan resistensi terhadap antibodi pentetral.

"Ini ditandai dengan mutasi pada protein lonjakan, termasuk G75V, T761, del247/253, L452Q, F490S, D614G dan T859N," ungkap WHO.

WHO mengatakan telah ada bukti terbatas mengenai dampak penuh dengan perubahan genom. Lembaga itu mencatat studi lebih lanjut mengenai dampak fenotipik diperlukan, untuk lebih memahami dampak pada tindakan pencegahan dan mengendalikan penyebaran.

Selain itu penelitian juga dibutuhkan untuk memahami dampak pada tindakan pencegahan dan mengendalikan penyebaran.

4. Keefektifan Vaksin

Kehadiran varian baru juga diikuti dengan pertanyaan apakah bisa dilawan dengan vaksin yang ada. Namun nampaknya belum ada jawaban soal pertanyaan itu.

Sebab WHO mengatakan dibutuhkan studi lebih lanjut untuk memvalidasi efektivitas vaksin yang berkelanjutan.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Waspada! Varian Corona Lambda Disebut Kebal Vaksin Covid-19


(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading