Ramalan Sri Mulyani, BI & Ekonom: Lanjut Resesi atau Bangkit?

News - Lidya Julita Sembiring, CNBC Indonesia
22 June 2021 11:55
Infografis: Sri Mulyani 'Ramal' PDB Q3 Minus, RI Sah Resesi!

Jakarta, CNBC Indonesia - Covid-19 di Indonesia kembali mengganas sejak pekan lalu. Bahkan penambahan kasus positif pada Senin (21/6/2021) yang mencapai 14.536 kasus merupakan angka tertinggi sejak terjadi pandemi. Dengan tambahan ini maka kasus Corona di Indonesia sejak Maret 2020 telah mencapai total 2.004.445 kasus.

Kondisi ini tentu saja akan mempengaruhi perekonomian dalam negeri secara keseluruhan. Pertumbuhan yang diramal bakal tumbuh hingga 8% di kuartal II nampaknya sulit tercapai.

"Bulan lalu proyeksi pada kuartal II adalah 7,1-8,3% dan seiring covid maka proyeksi lebih ke rentang batas bawah atau lebih rendah," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers APBN Kita secara daring.


Menurutnya, perekonomian masih akan tumbuh lebih baik dari pada kuartal II tahun 2020 lalu. Namun, tidak akan setinggi proyeksi awal pemerintah karena adanya lonjakan kasus ini.

Diketahui, pada kuartal II-2020 perekonomian Indonesia minus 5,3%. Ini adalah kontraksi terdalam perekonomian karena pandemi Covid-19.

"Jadi pada kuartal II (2021) ini ada rebound dan juga recovery," kata Sri Mulyani. Sementara untuk keseluruhan tahun, proyeksi pertumbuhan ekonomi tidak ada perubahan, yaitu 5%.

Bank Indonesia (BI) juga memiliki outlook yang sama dengan pemerintah untuk kinerja ekonomi Kuartal II-2021. Sementara keseluruhan tahun, BI memperkirakan pada rentang 4,1-5,1%.

Di sisi lain, Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menjelaskan pertumbuhan ekonomi keseluruhan tahun 2021 sangat tergantung dari penanganan Covid-19. Apabila pemerintah ingin bisa tumbuh di kisaran 5% maka harus bisa menekan penyebaran virus yang saat ini tengah mengganas.

Menurut Andry, apabila penularan Covid-19 terus melonjak terutama di zona merah yang kemudian dilakukan restriksi aktivitas, maka target pertumbuhan ekonomi pemerintah kemungkinan sulit tercapai.

"Forecast kita full year maksimum di 4,4%. Downside risk 3% sampai 4,4% kalau misalnya worst case scenario, lockdown masif di kota-kota besar penghasil kontribusi ke PDB besar kita, misalnya Jakarta, Bandung, Semarang. Itu kan kota-kota yang punya kontribusi terhadap PDB besar," jelasnya kepada CNBC Indonesia.

Sejalan dengan Andry, Ekonom Bank Danamon Wisnu Wardhana juga memandang jika penyebaran kasus semakin tinggi dan terjadi pengetatan dalam waktu yang lebih lama, maka akan menggangu proses pemulihan ekonomi yang sedang berjalan.

Meski ia menilai dampaknya tidak akan sedalam seperti yang dilakukan sebelumnya. Namun, target perekonomian Indonesia pada tahun ini dilihat akan sulit tercapai jika lonjakan kasus terus terjadi.

Wisnu bahkan memproyeksikan perekonomian sepanjang tahun ini hanya dapat tercapai pada kisaran 3,4%.

"Hingga saat ini, kami belum merevisi estimasi pertumbuhan ekonomi tahun 2021, yang sejak awal berada pada level 3,4%," jelas Wisnu.

Sementara itu, berbeda dengan pendapat lainnya, Senior Economist Standard Chartered Aldian Taloputra justrr melihat jika PPKM total dilakukan maka dampak negatif ke pertumbuhan ekonomi bisa lebih terjaga.

Pasalnya, kata Aldian protokol kesehatan, program vaksinasi sudah cukup kondusif, tidak seperti di awal pandemi ketika semua negara melakukan pengetatan secara bersamaan. Oleh karena itu, Aldian memproyeksikan target pertumbuhan ekonomi pemerintah untuk keseluruhan tahun 2021 yang sebesar 4,5% bisa tercapai.

"Kita masih melihat pertumbuhan ekonomi pada kisaran 4,5%, tapi tentunya akan tergantung dengan perkembangan virusnya," tegasnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Target Pertumbuhan Ekonomi RI 2022 Dipatok 5,2%-5,8%


(mij/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading