Internasional

Heboh, Putra Mahkota Arab Disebut 'Main Mata' dengan Israel

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
15 June 2021 14:35
FILE PHOTO: Saudi Arabia's Crown Prince Mohammed bin Salman Al Saud is seen during a meeting with U.N Secretary-General Antonio Guterres at the United Nations headquarters in the Manhattan borough of New York City, New York, U.S. March 27, 2018. REUTERS/Amir Levy Foto: REUTERS/Amir Levy

Jakarta, CNBC Indonesia - Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed Bin Salman (MBS) dilaporkan "bermain mata" dengan mantan Perdana Menteri (PM) Israel yang baru saja digulingkan, Benjamin Netanyahu. Ini dilakukan untuk melemahkan kekuatan Raja Yordania, Abdullah II.

Mengutip Middle East Monitor, rincian mengenai peran keduanya dilaporkan dalam artikel Washington Post oleh David Ignatius. Ia menulis laporan berjudul "Di dalam intrik istana di Yordania dan kesepakatan abad ini yang gagal".

Ignatius menjelaskan salah satu kisah terbesar terjadi April, ketika mantan Putra Mahkota Yordania Hamzah Bin Hussein dituduh merencanakan untuk menggulingkan Raja Abdullah II. Dugaan plot ini dikatakan telah didukung oleh Putra Mahkota Arab Saudi MBS.

Laporan Ignatius didasarkan pada investigasi Yordania. Penyelidikan melibatkan diskusi dengan pejabat saat ini dan mantan pejabat yang mengetahui kebijakan Timur Tengah dalam tubuh pemerintahan mantan Presiden AS sebelum Joe Biden, Donald Trump.

Dalam laporan itu, Raja Abdullah II dikabarkan keberatan dengan perwalian Masjid Al-Aqsa yang diusung Trump. Kala itu presiden ke-45 Paman Sam itu ingin Yerussalem, tempat di mana masjid Al-Aqsa berada sebagai ibu kota Israel.

"Saya tidak akan pernah mengubah posisi saya di Yerusalem terlepas dari apa yang orang lain katakan. Kami memiliki kewajiban historis terhadap Yerusalem dan tempat-tempat suci. Apakah ada tekanan pada saya dari luar negeri? Ada tekanan pada saya dari luar negeri. Tapi, bagi saya , ini garis merah," kata Abdullah II mengecam.

"Saya, sebagai seorang Hayimiah (keluarga kerajaan wangsa Hasyim), bagaimana saya bisa mundur atau melepaskan Yerusalem? Mustahil. Orang-orang berbicara tentang 'kesepakatan abad ini', atau tanah air alternatif. Bagaimana? Apakah kita tidak mendapatkan suara?."

Ignatius mengklaim bahwa Jared Kushner, menantu Trump merangkul Netanyahu dan MBS untuk semakin bermusuhan dengan Amman. Kala itu Kushner ditunjuk sebagai penasehat Presiden AS, untuk negosiasi Israel-Palestina.

"Trump percaya bahwa raja adalah penghalang bagi proses perdamaian," kata seorang mantan pejabat senior CIA.

"Sementara Trump, Netanyahu, dan MBS tampaknya tidak bekerja (langsung) untuk menggulingkan raja, tindakan mereka jelas melemahkannya dan mendorong musuh-musuhnya," tulis Ignatius.

Sebelumnya anggota kerajaan Yordania, Hassan bin Zaid serta mantan kepala Istana Basem Awadallah ditangkap April atas alasan keamanan. Putra Mahkota Hamzah bin Hussein juga dijaga ketat militer agar tak keluar rumah.

Dalam laporan lainnya dimuat AFP, sebuah dokumen Yordania juga mengungkapkan ada konspirasi untuk mendestabilisasi keamanan negara itu. Bahkan, Putra Mahkota Hamzah bin Hussein meminta bantuan Arab Saudi.

Media setempat juga mengaitkan kedekatan mantan kepala istana Awadallah dengan Putra Mahkota Arab Saudi MBS.

Tanggapan Arab Saudi

Sementara itu, otoritas Arab Saudi membantah terlibat dalam konflik di Yordania. Kerajaan itu menegaskan dukungan penuh ke Raja Abdullah II.

"Dan untuk keputusan dan langkah yang diambil oleh Raja Abdullah II dan Putra Mahkota Hussein untuk menjaga keamanan dan stabilitas," demikian pernyataan Saudi.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Dokumen Bocor, Pembunuh Khashoggi Pakai Jet Putra Raja Salman


(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading