Catat Nih Warga Jabodetabek, LRT Beroperasi Juni 2022

News - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
10 June 2021 09:25
Presiden Jokowi Meninjau Stasiun LRT TMII dan Stasiun Harjamukti Cibubur, Rabu (9/6/2021). (Biro Pers Sekretariat Presiden/Laily Rachev)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menargetkan pengoperasian penuh Light Rapid Transit (LRT) Jabodebek dijadwalkan pada Juni 2022 mendatang. Hal itu dikemukakan saat meninjau Stasiun LRT TMII dan Stasiun Harjamukti Cibubur, Rabu (9/6/2021).

"Progres pembangunan 84,7% dan kita harapkan nanti bulan April sudah mulai uji coba dan kita mulai untuk operasional bulan Juni 2022," jelasnya.

Jokowi menegaskan kehadiran LRT merupakan wujud dari upaya pemerintah untuk membangun sebuah transportasi massal yang terintegrasi. Ke depan, proyek ini diharapkan dapat terhubung satu sama lain dengan transportasi massal lainnya.


"MRT, LRT, kereta bandara, bus Trans Jakarta, semuanya terintegrasi, sehingga terjadi efisiensi dalam orang bepergian dari satu titik ke titik yang lain. Dan kita harapkan setelah ini selesai kita akan masuk kepada titik yang lain," jelasnya.

Untuk progresnya, Lintas pelayanan I Cawang - Cibubur 94%, lintas pelayanan II Cawang - Dukuh Atas 84%, dan lintas pelayanan III Cawang - Bekasi Timur 91%. Progres ini mencakup penyambungan lintasan dan pembangunan fisik stasiun.

Corporate Secretary PT Adhi Karya (Persero) Tbk Farid Budianto mengatakan saat ini tahapannya sudah proses penyelesaian (finishing), dijadwalkan beroperasi setelah pembangunan Depo atau tempat parkir dan perawatan kereta selesai.

"Pembangunan Depo sedikit terhambat karena pembebasan lahan, ini selesai awal 2021, setelah depo selesai harapan kita bisa beroperasi pada pertengahan 2022," jelasnya di Stasiun LRT Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Jumat (4/5/2021).

Saat ini pembebasan tanah untuk bangunan Depo sudah mencapai 100%, dengan progres konstruksi fisik sebesar 44%. Namun dalam pembangunan tempat pemeliharaan kereta yang berlokasi di Bekasi Timur, ini masih membutuhkan dukungan dana pembangunan.

Nah, dalam pembangunannya Adhi masih membutuhkan dana tambahan untuk membiayai proyek itu karena dari sindikasi pembiayaan yang didapatkan baru mencapai Rp 3,1 triliun.

"Dari nilai proyek Rp 4,2 triliun, Adhi butuh support dari perbankan dan pemegang saham ke depan. kendalanya adalah untuk pinjaman lebih dari 50% ekuitas itu butuh persetujuan RUPS, yang kemarin belum kuorum," jelasnya.

Farid menjelaskan saat ini nilai ekuitas Adhi terbatas hanya Rp 5,6 triliun, sehingga proses pinjaman juga dibatasi paling tidak hanya Rp 2,7-2,8 triliun yang bisa didapatkan. Sementara jika dalam RUPS ke depan tidak mendapat persetujuan juga dari pemegang saham, Adhi akan mencari alternatif pembiayaan lain.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading