Bukan Cuma RI, Ortu Siswa Malaysia juga Pusing Sekolah Online

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
08 June 2021 18:30
A man wearing a face mask walks along an empty road in front of the Twin Towers during the first day of Full Movement Control Order (MCO) in Kuala Lumpur, Malaysia, Tuesday, June 1, 2021. Malls and most businesses in Malaysia shuttered Tuesday as the country began its second near total coronavirus lockdown to tackle a worsening pandemic that has put its healthcare system on the verge of collapse. (AP Photo/Vincent Thian)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) tidak hanya dikeluhkan orang tua siswa di Indonesia. Fenomena serupa juga ditemukan di negeri jiran, Malaysia.

Sebagai gambaran, sejak Mei lalu, Malaysia memberlakukan school from home (SFH) atau sekolah dari rumah secara online selama dua minggu sebelum liburan pertengahan tahun. Kebijakan itu masih akan berlaku saat dimulainya semester baru pada 13-14 Juni.

Pada Minggu (6/6/2021), Menteri Pendidikan Malaysia Mohd Radzi Md Jidin mengumumkan sekolah akan melaksanakan pembelajaran dari rumah selama 25 hari ke depan karena situasi pandemi Covid-19 yang belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

Para orang tua di Malaysia mengaku kewalahan dengan aturan baru ini. Mereka resah atas kemajuan akademik anak-anak mereka di tengah penutupan sekolah yang berkepanjangan.

Salah satunya adalah Jessica Teng, manajer komunikasi sebuah perusahaan yang tinggal di Shah Alam. Ia kini harus membagi waktunya dengan pekerjaan dan mengurus ketiga anaknya yang mengikuti kelas secara daring.

Teng mengatakan, setiap anak memiliki empat hingga lima kelas daring sehari. Anaknya yang duduk di sekolah dasar mulai dari pukul 8 pagi, sementara anaknya yang masih di taman kanak-kanak memulainya pukul 9 pagi. Setiap kelas berlangsung sekitar satu jam.

"Saya setengah membantu anak bungsu saya dan setengah bekerja, karena guru membutuhkan mereka untuk berinteraksi dan saya harus mendorongnya untuk berinteraksi melalui tabletnya," katanya, sebagaimana dikutip dari Channel News Asia (CNA).

Sementara itu, dia harus mengecek aktivitas dua anaknya yang lebih besar setiap 30 atau 45 menit.



"Itu perlu, karena anak kedua saya memiliki rentang perhatian yang pendek. Saya memergokinya sedang melamun, melubangi penghapusnya, memecahkan pensil atau lebih buruk lagi, membuka tab browser baru untuk menjelajahi YouTube saat guru sedang mengajar," tambah Teng.

Tak jauh berbeda dengan nasib Teng, Nasreen Hani, seorang insinyur, khawatir dengan kemajuan putrinya. Sebelumnya Hani sempat meliburkan anaknya pada April karena ada kasus positif terdeteksi di sekolah putrinya.

"Dia sudah SD 2, tapi dia belum menguasai dasar-dasar untuk beberapa mata pelajaran, termasuk Bahasa Melayu. Dia juga belajar Bahasa Arab di sekolah, dan kami tidak berbicara atau mengerti bahasa itu di rumah," katanya.

"Bisakah Anda bayangkan bagaimana orang tua seperti saya seharusnya membantu mereka mengerjakan pekerjaan rumah mereka? Metode pengajaran kami juga berbeda dengan pendidik yang sebenarnya. Saya khawatir saya akan lebih membingungkan anak saya daripada membantunya," keluhnya.

Tantangan yang sama dari penutupan sekolah yang berkepanjangan tahun lalu muncul kembali, termasuk akses siswa ke Internet dan efisiensi pembelajaran berbasis rumah. Dapat dimengerti bahwa orang tua khawatir tentang kemajuan akademik anak-anak mereka. Belum lagi kurangnya interaksi sosial dan kegiatan di luar ruangan.

Dengan pemberlakuan penguncian total mulai 1 Juni, pusat penitipan anak dan pra-sekolah juga harus ditutup. Hal itu membuat banyak orang tua kewalahan.

Penutupan sekolah di Malaysia mengisyaratkan terganggunya pendidikan. Sebelumnya, tahun ajaran 2020 dibatalkan akibat melonjaknya kasus Covid-19, membuat sekolah hanya dibuka sekitar lima hingga enam bulan.

Siswa di Malaysia telah kembali ke sekolah secara bertahap tahun ini, dimulai dengan anak-anak prasekolah serta siswa SD 1 dan SD 2 pada 1 Maret. Namun, sejak ada laporan kasus positif Covid-19 yang terdeteksi di lembaga pendidikan dan sekolah atau kelas yang terkena dampak diperintahkan untuk ditutup selama dua hari.

Sekolah-sekolah di daerah telah ditempatkan di bawah perintah pengendalian gerakan yang ditingkatkan (EMCO) karena banyaknya kasus juga diamanatkan untuk ditutup, yang kemudian mengurangi kelas tatap muka.

Malaysia saat ini berada di bawah lockdown total hingga 14 Juni. Kasus Covid-19 harian telah menembus angka 9.000 dua kali, sementara kematian harian mencapai 126 pada 2 Juni, tertinggi sejak awal pandemi.



[Gambas:Video CNBC]

(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading