Ribut dengan China, Australia Kehilangan Pasar Ekspor!

News - Tommy Sorongan, CNBC Indonesia
03 June 2021 13:45
A ferry sails past the Opera House in Sydney, Australia, Tuesday, April 6, 2021. New Zealand announced the start date for a long-anticipated travel bubble between Australia and New Zealand that will allow people to travel between the two countries without going through quarantine, allowing families to reunite and giving a big boost to the struggling tourism industry will begin April 19. (AP Photo/Rick Rycroft)

Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan Australia dan China memanas baru-baru ini. Percikan perpecahan diawali sejak Canberra menyerukan penyelidikan internasional tentang asal-usul virus corona. Bahkan, keretakan ini telah membawa babak baru yang memicu perang dagang antara kedua negara.

Beijing sejak insiden itu telah mengambil beberapa tindakan yang membatasi impor Australia, mulai dari mengenakan tarif hingga memberlakukan larangan dan pembatasan lainnya. Itu telah mempengaruhi barang-barang Australia termasuk selai, anggur, daging sapi, kapas dan batu bara.

Hal ini dilakukan mengingat Australia adalah salah satu negara yang mengalami neraca surplus perdagangan dengan China. Dengan China menjadi mitra dagang terbesar Australia, para analis memperkirakan Australia akan terkena dampak buruk oleh pembatasan tersebut.


Tetapi para analis itu sekarang mengatakan Australia telah berhasil menahan kerusakan dengan mengalihkan banyak ekspornya ke negara lain.

"Ekspor ke China telah diprediksi runtuh di daerah yang terkena sanksi, tetapi sebagian besar perdagangan yang hilang ini tampaknya telah menemukan pasar lain," kata Roland Rajah, ekonom utama di Lowy Institute.

Ia mencontohkan di bidang batubara. Australia dirasa berhasil mengalihkan fokus China ke negara-negara lain seperti India. Hal ini membuat ekspor batubara Australia ke seluruh dunia pada Januari 2021 mencapai US$ 9,5 miliar, lebih tinggi secara tahunan dibanding sebelum dilarang China.

Namun tidak semua sektor mampu dialihkan dengan baik. Para analis mencatat bahwa Australia mengalami kesulitan pengiriman daging sapi dan anggur.

"Industri anggur Australia telah berjuang untuk menebus hilangnya pasar premium China," kata Rajah.

Awal tahun ini, China memberlakukan bea masuk anti-dumping pada beberapa anggur Australia, mengklaim bahwa Australia telah membuang dan mensubsidi ekspor anggurnya yang berakibat merugikan bagi sektor anggur domestik China.

Daging sapi juga ikut terpukul ketika China menangguhkan impor dari beberapa pemasok daging sapi Australia. Tetapi Rajah mengatakan perlambatan ekspor mungkin bukan hanya karena ketegangan perdagangan dengan China namun juga disebabkan oleh masalah pasokan setelah kekeringan baru-baru ini juga.

Sementara itu Wakil Perdana Menteri, Michael McCormack, mengatakan pada bulan lalu bahwa negara itu ingin mendiversifikasi pasarnya. Sebagai contoh, ia mengatakan Australia baru saja mengirim pengiriman selai pertamanya ke Meksiko.

Selain itu, Menteri Perdagangan Australia Dan Tehan mengatakan pada hari Rabu (2/6/2021) bahwa negaranya juga mempertimbangkan apakah akan melibatkan WTO dalam sengketa anggur yang sedang berlangsung dengan China.

Tehan menggemakan pesan bahwa Australia sedang mencari cara untuk menemukan pasar baru untuk produknya. Saat ini sedang merundingkan perjanjian perdagangan bebas dengan Inggris dan Uni Eropa.

"Kami juga selalu mencari peluang lain yang bisa kami kejar, baik melalui mitra dagang kami yang sudah ada atau dengan membuka jalan baru untuk dapat dieksplorasi," ujarnya.


[Gambas:Video CNBC]

(mij/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading