Titah Xi Jinping: Banyak Anak Banyak Rezeki! Ini Alasannya

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
01 June 2021 11:45
A Yi ethnic minority member stands inside his house displaying posters of Chinese President Xi Jinping and his wife Peng Liyuan, in Xujiashan village in Ganluo County, southwest China's Sichuan province, on Sept. 10, 2020. Communist Party Xi’s smiling visage looks down from the walls of virtually every home inhabited by members of the Yi minority group in a remote corner of China’s Sichuan province. Xi has replaced former leader Mao Zedong for pride of place in new brick and concrete homes built to replace crumbling traditional structures in Sichuan’s Liangshan Yi Autonomous Prefecture, which his home to about 2 million members of the group. (AP Photo/Andy Wong)

Jakarta, CNBC Indonesia - China mengubah kebijakan kependudukan secara drastis. Kebijakan satu anak cukup yang diberlakukan sejak 1979 diubah menjadi tiga anak lebih baik.

"Kebijakan ini akan didukung oleh berbagai upaya yang akan kondusif bagi struktur populasi negara dan mengatasi masalah populasi yang menua," tulis kantor berita Xinhua berdasarkan hasil rapat Politbiro Partai Komunis China yang dipimpin oleh Presiden Xi Jinping.


Upaya pemerintah untuk mendukung kebijakan tiga anak antara lain adalah menurunkan biaya pendudukan, insentif pajak, dukungan perumahan, dan landasan hukum bagi perempuan yang bekerja. Pemerintah juga akan mengatur sistem 'uang mahar' (dowry) bagi keluarga calon mempelai perempuan, yang selama ini begitu tinggi sehingga meredam keinginan untuk menikah.

Pada 2020, rata-rata seorang perempuan China memiliki 1,3 anak. Ini sama seperti negara-negara yang memiliki masalah penuaan populasi (ageing population) yaitu Jepang dan Italia. Idealnya, China membutuhkan 2,1 kelahiran per tahun.

Namun kebijakan ini tidak begitu saja bisa diterima oleh warga Negeri Tirai Bambu. Zhang Xinyu, seorang ibu satu anak yang berdomisili di Zhengzhou, menyatakan sulit bagi dirinya dan keluarga untuk menambah anak lagi.

"Perempuan yang lebih banyak bertanggung jawab dalam membesarkan anak dan masyarakat tidak memberi dukungan untuk itu. Berbeda kalau laki-laki ikut membesarkan anak, mungkin akan lebih banyak perempuan yang bersedia untuk memiliki anak lagi. Mempertimbangkan berbagai faktor, saya tidak mau punya anak kedua. Anak ketiga? Mustahil," papar Zhang dalam wawancara dengan Reuters.

"Saat ini, orang tua muda harus membeli rumah sendiri. Tekanan ini sudah sangat berat. Ditambah dengan biaya untuk anak seperti pendidikan dan sebagainya, saya rasa kebijakan ini akan sulit untuk diimplementasikan," tambah Gan Yuyang, ibu dari satu anak, juga dikutip dari Reuters.

Halaman Selanjutnya --> Angka Kelahiran China Terus Menurun

Angka Kelahiran China Terus Menurun
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading