Komda KIPI Jakarta Pastikan Vaksin Yang Diberikan Aman

News - Rahajeng KH, CNBC Indonesia
21 May 2021 14:47
Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin dosis pertama kepada driver Gojek di Kemayoran, Jakarta, Kamis (29/4/2021). Halodoc dan Gojek berkolaborasi hadirkan pos pelayanan Covid-19 melalui metode Drive thru dan melayani 1.500 dosis vaksin setiap harinya untuk memperkuat upaya Kementerian Kesehatan RI dalam mempercepat Vaksinasi Covid-19 di Indonesia.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Komisi Daerah (Komda) KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) Provinsi DKI Jakarta dr. Ellen Roostati Sianipar memastikan setiap vaksin Covid-19 yang diberikan aman. Vaksin yang diberikan kepada masyarakat telah melewati sejumlah tahapan penelitian ilmiah.

"Semua vaksin sudah diuji coba melalui tiga fase dan dipastikan aman," ujar Ellen dalam siaran resmi, Jumat (21/05/2021).

KIPI yang terjadi pun biasanya tidak serius, seperti ketika menerima vaksin lainnya ada rasa nyeri atau demam. Meski dia mengakui KIPI yang serius akan tetap menjadi perhatian, misalnya keluhannya berlanjut dan memerlukan perawatan.

"Hingga sejauh ini laporan yang kami terima lebih kecil dibandingkan jumlah orang yang telah divaksinasi. Meski kecil kami tetap tindak lanjuti dengan melakukan pengkajian," ujar Ellen.


Dia menjelaskan, untuk menjamin keamanan sebelum vaksinasi, petugas juga telah memberitahu kepada masyarakat bila ada gejala seperti demam, menggigil, mual, atau muntah dianjurkan minum obat. Jika gejala berlanjut, ada kontak yang bisa dihubungi dan bisa langsung menghubungi puskesmas.

"Kalau ada gejala dianjurkan minum parasetamol dulu tapi kali berlanjut hubungi faskes terdekat. Kalau di Jakarta, semua puskesmas siap atau UGD terdekat. Pasti dilayani," katanya.

Terkait informasi ada warga yang meninggal dunia setelah vaksinasi, Ellen mengatakan, hingga saat ini masih berlangsung pengkajian. Menurutnya, peristiwa ini termasuk KIPI yang serius. Dia menyebut, dalam 24 jam pihaknya langsung melakukan investigasi. Mengumpulkan data sebanyak-banyaknya dan selanjutnya melakukan pengkajian.

"Sudah dua kali pengkajian dengan Komnas KIPI, kita juga telah menemui keluarga untuk mengetahui kronologis. Sampai sekarang belum selesai, investigasi masih dilanjutkan," katanya.

Pasca peristiwa tersebut, pemerintah juga sigap menunda Batch atau kumpulan produksi CTMAV547 vaksin AstraZeneca untuk pengujian toksisitas dan sterilitas oleh BPOM sebagai bentuk upaya kehati-hatian untuk memastikan keamanan vaksin ini.

"Saat ini batch itu juga tengah diteliti lebih lanjut, butuh waktu dua atau tiga minggu," tuturnya.

Diia mengatakan vaksin AstraZeneca sudah diberikan lebih dulu di Sulawesi. Bahkan pada sekitar Maret sudah diberikan kepada anggota TNI/Polri di Jakarta. Setelah penyuntikan pun tidak ditemukan kasus serius.

Adapun mekanisme kerja investigasi jika ada laporan KIPI serius, biasanya laporan bisa berasal dari laporan masyarakat, fasilitas kesehatan, atau dokter. Setelah itu pihaknya melengkapi laporan dan dilanjutkan investigasi dengan mengumpulkan data sebanyak-banyaknya.

Termasuk jika hingga pasien dirawat, Komda KIPI perlu menemui dokter yang merawat, datang ke RS, menemui keluarga. Setelah lengkap dikaji dengan para ahli, seperti penyakit dalam dan hematologi.

"Kemudian diputuskan apa sebab sebenarnya," kata Ellen.

Ellen mengatakan, sejauh ini yang terjadi koinsiden, artinya tidak berhubungan dengan vaksin. Jika terjadi gejala bersamaan biasanya bukan dari efek vaksinasi. Dia berharap, jika menemukan informasi soal KIPI terlebih dahulu harus dicek kebenarannya. Pasalnya, pada 2017 juga ada vaksinasi MR, banyak informasi yang simpang siur yang menyebabkan masyarakat takut.

"Jangan panik. Di sekitar kita ada faskes, ada dokter dan tenaga kesehatan yang bisa ditanya," katanya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Vaksin Gotong Royong untuk Membentuk Kekebalan Usia Produktif


(rah/rah)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading