Risiko Kematian Tinggi, Lansia Harus Segera Vaksinasi

News - rah, CNBC Indonesia
31 May 2021 12:07
Sejumlah lansia mengantri untuk penyuntikan vaksin covid-19 di SDN 17 Pagi, Kebayoran Lama, Jakarta, Selasa (30/3/2021). Pemerintah kota DKI Jakarta Selatan menjemput warga (lansia) untuk mempercepat vaksinasi Covid-19. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Angka kematian pada lansia usia 60 tahun ke atas akibat Covid-19 mencapai 49,4% dan menjadi yang tertinggi di antara kelompok usia lainnya. Tingginya risiko pada kelompok lanjut usia menjadi penting untuk memprioritaskan perlindungan kepada lansia.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan kelompok usia 46-59 tahun mencapai 35,5% , usia 31-45 tahun sebanyak 11,2%, sisanya berasal dari kelompok usia 30 tahun ke bawah.

"Hingga Jumat 28 Mei 2021 angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia bertambah 193 orang sehingga total mencapai 50.100 orang," ujar Wiku.


Kehilangan ayah tercinta karena Covid-19 dialami Eka Simanjuntak, ayahnya, Humala Simanjuntak meninggal dunia di usia 85 tahun setelah 11 hari dirawat di Rumah Sakit Hermina, Kemayoran, Jakarta.

Menurut Eka, sebelum meninggal dunia ayahnya masih sangat aktif, masih bekerja, jalannya juga masih tegak, berpikir baik. Humala berprofesi sebagai pengacara dan masih aktif melakukan pendampingan bagi orang-orang yang memiliki masalah hukum.

Namun satu saat ayahnya jatuh di tangga, Eka dan keluarga sempat membawa ayahnya ke rumah sakit. Sempat didiagnosis memiliki masalah pada gendang telinga (keseimbangannya terganggu) dan rawat jalan di rumah. Pada saat makan, ayahnya tidak bisa mencium bau dan merasakan makanan.

"Kakak saya mulai curiga, ayah saya langsung di PCR dan hasilnya positif Covid-19. Kemudian langsung dirawat di RS Hermina Kemayoran hingga tutup usia," katanya.

Eka menceritakan, semasa hidupnya ayahnya adalah orang yang sangat disiplin menerapkan protokol kesehatan. Tidak hanya pada dirinya tapi juga rekan kerja di kantor. Ayahnya sering mengingatkan yang lain agar selalu menerapkan protokol kesehatan seperti menggunakan masker dan tidak boleh berkumpul.

Hingga karena suatu keperluan ayahnya pulang ke kampung dan menyaksikan banyak orang yang tidak menjalankan protokol kesehatan, tidak memakai masker, tidak menjaga jarak. Meski demikian tidak banyak tidak banyak dari mereka yang tertular Covid-19, sehingga Humala pun mulai menganggap Covid-19 tidak terlalu berbahaya.

"Apalagi ayah saya merasa sehat dan masih bisa beraktivitas seperti biasa di usia yg sudah 85 tahun," ujarnya.

Untuk itu, Eka berpesan kepada siapapun untuk tidak menganggap remeh Covid-19 meski merasa sehat. Dia mengingatkan, vaksinasi dan protokol kesehatan menjadi satu-satunya cara menghindari Covid-19.

"Tidak ada yang lain. Vaksinasi mengurangi risiko, dan kalaupun masih tertular, proses penyembuhannya akan lebih baik dibanding dengan yang belum divaksinasi," tegas Eka.

Peristiwa serupa juga dialami Taufiq Dimas (20), asal Banyumas, yang harus kehilangan ayahnya karena Covid-19. Dimas berpesan, pandemi sudah lama melanda bangsa ini dan sudah banyak yang harus meninggal dunia akibat Covid-19.

Dia menekankan agar masyarakat tidak menganggap enteng dan meremehkan virus ini, terutama dampaknya bagi lansia.

"Jangan karena masih merasa sehat saja dan tidak pernah mengalami hal yang tidak diinginkan kita jadi abai dengan protokol dan malah membahayakan orang lain," ujar Dimas.

Dalam kesempatan yang sama Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiolog Indonesia (PAEI) Masdalina Pane menjelaskan lansia merupakan kelompok rentan sama seperti bayi dan anak-anak. Daya tahan tubuh mereka lebih rendah dibandingkan dewasa muda, sehingga ketika terinfeksi dampaknya akan lebih berat.

Apalagi jika lansia yang sebagian besar memiliki komorbid, penyakit degeneratif yang diderita lansia karena penuaan. Hal ini pun sangat berpengaruh terhadap kematian lansia karena Covid-19, apalagi jika memiliki komorbid yang tidak terkontrol. Masdalina juga menambahkan, karena mekanisme pertahanan diri pada lansia turun sangat jauh dibandingkan kelompok usia muda, jadi lebih banyak harus diberi dukungan dari luar untuk bertahan, seperti obat dan suplemen.

"Tentu saja vaksinasi dan protokol kesehatan juga harus jalan," kata Masdalina.

Plt Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Maxi Reni Rondonuwu menyebut, salah satu hal kendala masih rendahnya cakupan vaksinasi bagi lansia adalah kemudahan akses ke lokasi vaksinasi. Dengan fisik yang sudah mulai menurun, lansia membutuhkan tempat vaksinasi yang mudah dekat dan mudah dijangkau.

Meski demikian, tidak semua sasaran vaksinasi memiliki kondisi sosial maupun ekonomi yang sama seperti lokasi vaksinasi yang jauh, ketiadaan pendamping, akses transportasi yang sulit. Hal ini menjadi salah satu penghambat para lansia untuk mengikuti vaksinasi.

Menurutnya, daerah perlu melakukan gerakan bersama yang jauh lebih masif dengan melibatkan stakeholder terkait agar semakin banyak lansia yang divaksinasi. Termasuk menciptakan model baru vaksinasi yang mudah, aman dan nyaman.

"Kami membuat kebijakan, satu pendamping yang membawa dua lansia akan ikut disuntik vaksin. Mudah-mudahan daerah juga akan diimplementasikan. Karena ada 456 Kabupaten/Kota yang cakupan vaksinasi lansia masih di bawah 25%. Saya kira daerah perlu mencontoh DKI Jakarta, yang camat maupun lurah ikut terlibat untuk memobilisasi lansia," kata Maxi.

Di samping kemudahan akses, kepercayaan masyarakat mengikuti vaksinasi untuk melindungi dari potensi penularan Covid-19, turut menjadi perhatian pemerintah. Sebab, ada kecenderungan para anak-anak lansia ini khawatir mengikutsertakan orang tua mereka vaksinasi karena takut akan keamanan dan efektivitas vaksin.

Koordinator PMO Komunikasi Publik KPCPEN Arya Sinulingga mengatakan, pemerintah menargetkan 181,5 juta penduduk Indonesia mendapatkan vaksin Covid-19. Proses penyuntikan yang telah dimulai sejak 13 Januari 2021 ditargetkan rampung dalam waktu satu tahun.

Arya mengatakan pemerintah melibatkan semua pihak termasuk swasta untuk menyukseskan program vaksinasi nasional. Salah satu upaya yang dilakukan adalah semakin banyak membuka lokasi vaksinasi yang bertujuan memudahkan juga mendekatkan akses vaksinasi terutama bagi lansia.

"Ini tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di sejumlah kota di Indonesia. Ada juga layanan drive thru," kata Arya.

Dia mengharapkan keluarga terdekat kelompok lansia hendaknya mau mengajak dan membantu orang tua untuk divaksin.

"Jangan ragu, jaga dan sayangi orang tua kita dengan vaksinasi," tutur Arya.

Sementara itu, terkait efek samping, Ketua ITAGI Profesor Dr. Sri Rezeki S Hadinegoro mengatakan kepada masyarakat agar tidak perlu khawatir atau takut terhadap pelaksanaan vaksinasi Covid-19. Biasanya kelompok lansia justru memiliki Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang sangat rendah. Gejala yang dialami pasca penyuntikan sifatnya ringan dan mudah diatasi, sehingga para anak diimbau untuk tidak perlu khawatir, manfaat vaksinasi jauh lebih besar dibandingkan risikonya.

"Efek samping kedua vaksin ini (Sinovac dan AstraZeneca) cukup ringan, tidak ada yang masuk RS atau sampai meninggal. KIPI pada lansia ini justru sangat sangat sedikit dibandingkan yang dewasa/muda," kata Profesor Sri Rezeki.

Sebagai salah satu pihak yang ikut terlibat dalam penentuan jenis vaksin yang akan digunakan dalam program vaksinasi nasional, Sri menegaskan pemerintah tentunya akan menyediakan vaksin Covid-19 yang aman, bermutu dan berkhasiat untuk melindungi seluruh masyarakat.

Hal senada disampaikan Ketua Komnas PP KIPI Profesor dr. Hindra Irawan Satari mengatakan kesadaran masyarakat lansia cukup baik karena mengetahui masuk dalam kelompok rentan. Namun sayangnya terkadang justru dari keluarga yang tidak mengizinkan lansia untuk divaksinasi.

"Karena ternyata (keluarga) memperoleh informasi yang kurang tepat atau pihak yang tidak berwenang terkait imunisasi atau vaksinasi," ujarnya.

Sebagai lansia berusia 66 tahun, Profesor Hindra menyatakan, dirinya telah divaksinasi dua kali. Padahal memiliki gangguan irama jantung, penderita hipertensi, kolesterol juga sempat tinggi, dan begitu juga asam urat.

Menurutnya, meski memiliki komorbid atau penyakit penyerta, lansia tetap bisa divaksin. Karena tentu, divaksin lebih baik daripada tidak divaksin.

"Jika ada KIPI mudah-mudahan sifatnya ringan dan dapat ditolerir namun manfaat vaksinasi jauh lebih besar maka sama-sama kita divaksin," kata dia.

Dia juga menjamin, vaksin aman bagi masyarakat. Komnas KIPI pun terus memantau, mengkaji, merekomendasikan apakah vaksin itu aman atau tidak bagi masyarakat. Kalau aman vaksin pihaknya rekomendasikan untuk program vaksinasi nasional.

"Kalau ada perubahan kita buat rekomendasi baru," kata Hindra.

Dia menambahkan, jika ada laporan terkait KIPI maka ada dua hal yang dilakukan Komnas KIPI. Pertama, mengecek berapa lama ketika diberikan vaksin hingga ada gejala dan kedua apakah ada penyakit lain yang menyebabkan gejala dan bukan berasal dari vaksin.

"Kalau gejala lebih dua hari laporkan saja nanti gejala itu diinvestigasi, dianalisis, dan dikaji. Apapun keluhannya silakan lapor, kita justru mengharapkan laporan," ujar Hindra.


[Gambas:Video CNBC]

(rah/rah)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading